Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Teknologi Budidaya Kelapa Sawit
Selasa, 27 Agustus 2013
Kategori
Artikel
I. PENDAHULUAN
Agribisnis kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), baik yang berorientasi pasar lokal maupun global akan berhadapan dengan tuntutan kualitas produk dan kelestarian lingkungan selain tentunya kuantitas produksi. PT. Natural Nusantara berusaha berperan dalam peningkatan produksi budidaya kelapa sawit secara Kuantitas, Kualitas dan tetap menjaga Kelestarian lingkungan (Aspek K-3).
II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm. Temperatur optimal 24-280C. Ketinggian tempat yang ideal antara 1-500 m dpl. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan.
2.2. Media Tanam
Tanah yang baik mengandung banyak lempung, beraerasi baik dan subur. Berdrainase baik, permukaan air tanah cukup dalam, solum cukup dalam (80 cm), pH tanah 4-6, dan tanah tidak berbatu. Tanah Latosol, Ultisol dan Aluvial, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit.
Agribisnis kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), baik yang berorientasi pasar lokal maupun global akan berhadapan dengan tuntutan kualitas produk dan kelestarian lingkungan selain tentunya kuantitas produksi. PT. Natural Nusantara berusaha berperan dalam peningkatan produksi budidaya kelapa sawit secara Kuantitas, Kualitas dan tetap menjaga Kelestarian lingkungan (Aspek K-3).
II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm. Temperatur optimal 24-280C. Ketinggian tempat yang ideal antara 1-500 m dpl. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan.
2.2. Media Tanam
Tanah yang baik mengandung banyak lempung, beraerasi baik dan subur. Berdrainase baik, permukaan air tanah cukup dalam, solum cukup dalam (80 cm), pH tanah 4-6, dan tanah tidak berbatu. Tanah Latosol, Ultisol dan Aluvial, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Penyemaian
Kecambah dimasukkan polibag 12x23 atau 15x23 cm berisi 1,5-2,0 kg tanah lapisan atas yang telah diayak. Kecambah ditanam sedalam 2 cm. Tanah di polibag harus selalu lembab. Simpan polibag di bedengan dengan diameter 120 cm. Setelah berumur 3-4 bulan dan berdaun 4-5 helai bibit dipindahtanamkan.
Bibit dari dederan dipindahkan ke dalam polibag 40x50 cm setebal 0,11 mm yang berisi 15-30 kg tanah lapisan atas yang diayak. Sebelum bibit ditanam, siram tanah dengan POC NASA 5 ml atau 0,5 tutup per liter air. Polibag diatur dalam posisi segitiga sama sisi dengan jarak 90x90 cm.
3.1.2. Pemeliharaan Pembibitan
Penyiraman dilakukan dua kali sehari. Penyiangan 2-3 kali sebulan atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Bibit tidak normal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis harus dibuang. Seleksi dilakukan pada umur 4 dan 9 bulan. Pemupukan pada saat pembibitan sebagai berikut :
3.1. Pembibitan
3.1.1. Penyemaian
Kecambah dimasukkan polibag 12x23 atau 15x23 cm berisi 1,5-2,0 kg tanah lapisan atas yang telah diayak. Kecambah ditanam sedalam 2 cm. Tanah di polibag harus selalu lembab. Simpan polibag di bedengan dengan diameter 120 cm. Setelah berumur 3-4 bulan dan berdaun 4-5 helai bibit dipindahtanamkan.
Bibit dari dederan dipindahkan ke dalam polibag 40x50 cm setebal 0,11 mm yang berisi 15-30 kg tanah lapisan atas yang diayak. Sebelum bibit ditanam, siram tanah dengan POC NASA 5 ml atau 0,5 tutup per liter air. Polibag diatur dalam posisi segitiga sama sisi dengan jarak 90x90 cm.
3.1.2. Pemeliharaan Pembibitan
Penyiraman dilakukan dua kali sehari. Penyiangan 2-3 kali sebulan atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Bibit tidak normal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis harus dibuang. Seleksi dilakukan pada umur 4 dan 9 bulan. Pemupukan pada saat pembibitan sebagai berikut :
Pupuk Makro
| |
| 15-15-6-4 | Minggu ke 2 & 3 (2 gram); minggu ke 4 & 5 (4gr); minggu ke 6 & 8 (6gr); minggu ke 10 & 12 (8gr) |
| 12-12-17-2 | Mingu ke 14, 15, 16 & 20 (8 gr); Minggu ke 22, 24, 26 & 28 (12gr), minggu ke 30, 32, 34 & 36 (17gr), minggu ke 38 & 40 (20gr). |
| 12-12-17-2 | Minggu ke 19 & 21 (4gr); minggu ke 23 & 25 (6gr); minggu ke 27, 29 & 31 (8gr) |
| POC NASA | Mulai minggu ke 1 – 40 (1-2cc/lt air perbibit disiramkan 1-2 minggu sekali). |
Catatan : Akan Lebih baik pembibitan diselingi/ditambah SUPERNASA 1-3 kali dengan dosis 1 botol untuk + 400 bibit. 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 4 liter (4000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman
3.2. Teknik Penanaman
3.2.1. Penentuan Pola Tanaman
Pola tanam dapat monokultur ataupun tumpangsari. Tanaman penutup tanah (legume cover crop LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Penanaman tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.
3.2.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat beberapa hari sebelum tanam dengan ukuran 50x40 cm sedalam 40 cm. Sisa galian tanah atas (20 cm) dipisahkan dari tanah bawah. Jarak 9x9x9 m. Areal berbukit, dibuat teras melingkari bukit dan lubang berjarak 1,5 m dari sisi lereng.
3.2.3. Cara Penanaman
Penanaman pada awal musim hujan, setelah hujan turun dengan teratur. Sehari sebelum tanam, siram bibit pada polibag. Lepaskan plastik polybag hati-hati dan masukkan bibit ke dalam lubang. Taburkan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang selama + 1 minggu di sekitar perakaran tanaman. Segera ditimbun dengan galian tanah atas. Siramkan POC NASA secara merata dengan dosis ± 5-10 ml/ liter air setiap pohon atau semprot (dosis 3-4 tutup/tangki). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPERNASA. Adapun cara penggunaan SUPERNASA adalah sebagai berikut: 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 2 liter 2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.
3.3. Pemeliharaan Tanaman
3.3.1. Penyulaman dan Penjarangan
Tanaman mati disulam dengan bibit berumur 10-14 bulan. Populasi 1 hektar + 135-145 pohon agar tidak ada persaingan sinar matahari.
3.3.2. Penyiangan
Tanah di sekitar pohon harus bersih dari gulma.
3.3.3. Pemupukan
Anjuran pemupukan sebagai berikut :
Pupuk Makro
NB. : Pemberian pupuk pertama sebaiknya pada awal musim hujan (September - Oktober) dan kedua di akhir musim hujan (Maret- April). POC NASA
a. Dosis POC NASA mulai awal tanam :
b. Dosis POC NASA pada tanaman yang sudah produksi tetapi tidak dari awal memakai POC NASA.
Tahap 1 : Aplikasikan 3 - 4 kali berturut-turut dengan interval 1-2 bln. Dosis 3-4 tutup/ pohon
Tahap 2 : Aplikasikan setiap 3-4 bulan sekali. Dosis 3-4 tutup/ pohon
Catatan: Akan Lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPERNASA 1-2 kali/tahun dengan dosis 1 botol untuk + 200 tanaman. Cara lihat Teknik Penanaman (Point 3.2.3.)
3.3.4. Pemangkasan Daun
Terdapat tiga jenis pemangkasan yaitu:
3.3.1. Penyulaman dan Penjarangan
Tanaman mati disulam dengan bibit berumur 10-14 bulan. Populasi 1 hektar + 135-145 pohon agar tidak ada persaingan sinar matahari.
3.3.2. Penyiangan
Tanah di sekitar pohon harus bersih dari gulma.
3.3.3. Pemupukan
Anjuran pemupukan sebagai berikut :
Pupuk Makro
Urea |
| 225 kg/ha 1000 kg/ha |
TSP |
| 115 kg/ha 750 kg/ha |
MOP/KCl |
| 200 kg/ha 1200 kg/ha |
Kieserite |
| 75 kg/ha 600 kg/ha |
Borax |
| 20 kg/ha 40 kg/ha |
NB. : Pemberian pupuk pertama sebaiknya pada awal musim hujan (September - Oktober) dan kedua di akhir musim hujan (Maret- April). POC NASA
a. Dosis POC NASA mulai awal tanam :
0-36 bln
| 2-3 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang, setiap 4 - 5 bulan sekali |
>36 bln
| 3-4 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang, setiap 3 – 4 bulan sekali |
b. Dosis POC NASA pada tanaman yang sudah produksi tetapi tidak dari awal memakai POC NASA.
Tahap 1 : Aplikasikan 3 - 4 kali berturut-turut dengan interval 1-2 bln. Dosis 3-4 tutup/ pohon
Tahap 2 : Aplikasikan setiap 3-4 bulan sekali. Dosis 3-4 tutup/ pohon
Catatan: Akan Lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPERNASA 1-2 kali/tahun dengan dosis 1 botol untuk + 200 tanaman. Cara lihat Teknik Penanaman (Point 3.2.3.)
3.3.4. Pemangkasan Daun
Terdapat tiga jenis pemangkasan yaitu:
- Pemangkasan pasir. Membuang daun kering, buah pertama atau buah busuk waktu tanaman berumur 16-20 bulan.
- Pemangkasan produksi. Memotong daun yang tumbuhnya saling menumpuk (songgo dua) untuk persiapan panen umur 20-28 bulan.
- Pemangkasan pemeliharaan. Membuang daun-daun songgo dua secara rutin sehingga pada pokok tanaman hanya terdapat sejumlah 28-54 helai.
3.3.5. Kastrasi Bunga
Memotong bunga-bunga jantan dan betina yang tumbuh pada waktu tanaman berumur 12-20 bulan.
3.3.6. Penyerbukan Buatan
Untuk mengoptimalkan jumlah tandan yang berbuah, dibantu penyerbukan buatan oleh manusia atau serangga.
a. Penyerbukan oleh manusia.
Dilakukan saat tanaman berumur 2-7 minggu pada bunga betina yang sedang represif (bunga betina siap untuk diserbuki oleh serbuk sari jantan). Ciri bunga represif adalah kepala putik terbuka, warna kepala putik kemerah-merahan dan berlendir.
Cara penyerbukan:
1. Bak seludang bunga.
2. Campurkan serbuk sari dengan talk murni ( 1:2 ). Serbuk sari diambil dari pohon yang baik dan biasanya sudah dipersiapkan di laboratorium, semprotkan serbuk sari pada kepala putik dengan menggunakan baby duster/puffer.
b. Penyerbukan oleh Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit.
Serangga penyerbuk Elaeidobius camerunicus tertarik pada bau bunga jantan. Serangga dilepas saat bunga betina sedang represif. Keunggulan cara ini adalah tandan buah lebih besar, bentuk buah lebih sempurna, produksi minyak lebih besar 15% dan produksi inti (minyak inti) meningkat sampai 30%.
3.4. Hama dan Penyakit
3.4.1. Hama
a. Hama Tungau
Penyebab: tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun. Gejala: daun menjadi mengkilap dan berwarna bronz. Pengendalian: Semprot Pestona atau Natural BVR.
b. Ulat Setora
Penyebab: Setora nitens. Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun dimakan sehingga tersisa lidinya saja. Pengendalian: Penyemprotan dengan Pestona.
3.4.2. Penyakit
a. Root Blast
Penyebab: Rhizoctonia lamellifera dan Phythium Sp. Bagian diserang akar. Gejala: bibit di persemaian mati mendadak, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar. Pengendalian: pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO.
b. Garis Kuning
Penyebab: Fusarium oxysporum. Bagian diserang daun. Gejala: bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering. Pengendalian: inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO semenjak awal.
c. Dry Basal Rot
Penyebab: Ceratocyctis paradoxa. Bagian diserang batang. Gejala: pelepah mudah patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati dan kering. Pengendalian: adalah dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki .
3.5. Panen
3.5.1. Umur Panen
Mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih.
Catatan Tambahan
Dalam artikel kali ini akan dibahas tetang cara menanam kelapa sawit secara efisien sehingga biaya yang diperlukan akan semakin rendah. Saat ini agribisnis kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), baik yang berorientasi pasar lokal maupun global akan berhadapan dengan tuntutan kualitas produk dan kelestarian lingkungan selain tentunya kuantitas produksi.
3.4.1. Hama
a. Hama Tungau
Penyebab: tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun. Gejala: daun menjadi mengkilap dan berwarna bronz. Pengendalian: Semprot Pestona atau Natural BVR.
b. Ulat Setora
Penyebab: Setora nitens. Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun dimakan sehingga tersisa lidinya saja. Pengendalian: Penyemprotan dengan Pestona.
3.4.2. Penyakit
a. Root Blast
Penyebab: Rhizoctonia lamellifera dan Phythium Sp. Bagian diserang akar. Gejala: bibit di persemaian mati mendadak, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar. Pengendalian: pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO.
b. Garis Kuning
Penyebab: Fusarium oxysporum. Bagian diserang daun. Gejala: bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering. Pengendalian: inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO semenjak awal.
c. Dry Basal Rot
Penyebab: Ceratocyctis paradoxa. Bagian diserang batang. Gejala: pelepah mudah patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati dan kering. Pengendalian: adalah dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki .
3.5. Panen
3.5.1. Umur Panen
Mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih.
Catatan Tambahan
Dalam artikel kali ini akan dibahas tetang cara menanam kelapa sawit secara efisien sehingga biaya yang diperlukan akan semakin rendah. Saat ini agribisnis kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), baik yang berorientasi pasar lokal maupun global akan berhadapan dengan tuntutan kualitas produk dan kelestarian lingkungan selain tentunya kuantitas produksi.
Untuk
dapat tumbuh dengan baik maka sawit membutuhkan Lama penyinaran
matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm.
Temperatur optimal 24-280C. Ketinggian tempat yang ideal antara 1-500 m
dpl. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan.
Tanah yang baik mengandung banyak lempung, beraerasi baik dan subur. Berdrainase baik, permukaan air tanah cukup dalam, solum cukup dalam (80 cm), pH tanah 4-6, dan tanah tidak berbatu. Tanah Latosol, Ultisol dan Aluvial, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit.
Berikut akan diuraikan cara menanam kelapa sawit yang efektif.
Pertama yang harus kita ketahui adalah jenis - jenis bibit kelapa sawit yang unggul dimana sudah di ulas dalam artikel sebelumnya karena kita akan bergantung pada produksi kelapa sawit tersebut selama 25 tahun sehingga jika bibit tidak baik maka kita akan merugi selama 25 tahun tersebut
Tanah yang baik mengandung banyak lempung, beraerasi baik dan subur. Berdrainase baik, permukaan air tanah cukup dalam, solum cukup dalam (80 cm), pH tanah 4-6, dan tanah tidak berbatu. Tanah Latosol, Ultisol dan Aluvial, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit.
Berikut akan diuraikan cara menanam kelapa sawit yang efektif.
Pertama yang harus kita ketahui adalah jenis - jenis bibit kelapa sawit yang unggul dimana sudah di ulas dalam artikel sebelumnya karena kita akan bergantung pada produksi kelapa sawit tersebut selama 25 tahun sehingga jika bibit tidak baik maka kita akan merugi selama 25 tahun tersebut
Teknologi Budidaya Jagung
Kategori
Artikel
CARA MENANAM JAGUNG

Cara praktis
budidaya jagung yang akan saya uraikan di sini merupakan cara menanam
jagung dengan sistem Tanpa Olah Tanah (TOT). Maksud dan tujuan dari
penulisan artikel ini adalah untuk memanfaatkan lahan bekas pertanaman
padi sebagai alternatif penggiliran tanaman. Dengan asumsi bahwa
penggiliran tanaman sangat diperlukan untuk menjaga kesuburan tanah
serta menekan perkembangan hama penyakit pada tanaman sejenis atau
sefamili.
SYARAT TUMBUH TANAMAN JAGUNG
Tanaman
jagung tumbuh optimal pada daerah berketinggian tempat antara 200-800
mdpl. Tanaman ini membutuhkan sinar matahari penuh tanpa naungan, suhu
udara berkisar 22-26°C, pH tanah 6-7.
Tanaman jagung termasuk tanaman sensitif dan rakus terhadap unsur hara nitrogen, sehingga pemberian pupuk nitrogen sangat mutlak diberikan untuk menunjang keberhasilan budidaya jagung.
Tanaman jagung termasuk tanaman sensitif dan rakus terhadap unsur hara nitrogen, sehingga pemberian pupuk nitrogen sangat mutlak diberikan untuk menunjang keberhasilan budidaya jagung.
PELAKSANAAN BUDIDAYA JAGUNG
Persiapan Lahan Budidaya Jagung
Persiapan
lahan budidaya jagung meliputi, pemberian pupuk organik atau pupuk
kandang fermentasi. Pupuk organik diberikan dengan cara menaburkan pupuk
membentuk larikan/baris disesuaikan dengan baris yang akan digunakan
sebagai tempat penanaman jagung. Dosis pemberian pupuk organik cukup 2
ton/Ha.
Pengapuran perlu dilakukan untuk meningkatkan pH pada tanah asam hingga mendekati normal. Kondisi pH normal memungkinkan tanaman jagung tumbuh maksimal, karena penyerapan unsur hara menjadi optimal. Dosis pengapuran untuk mayoritas tanah di pulau Jawa sebanyak 400 kg/Ha. Pemberian kapur dilakukan seperti pemberian pupuk kandang, yaitu ditaburkan membentuk larikan/baris.
Pembuatan atau perbaikan drainase untuk melancarkan pembuangan air saat musim hujan. Pembersihan gulma menggunakan herbisida pra-tumbuh, dosis/konsentrasi sesuai petunjuk kemasan. Setelah penyemprotan herbisida pratumbuh lahan dibiarkan selama 10 hari.
Pengapuran perlu dilakukan untuk meningkatkan pH pada tanah asam hingga mendekati normal. Kondisi pH normal memungkinkan tanaman jagung tumbuh maksimal, karena penyerapan unsur hara menjadi optimal. Dosis pengapuran untuk mayoritas tanah di pulau Jawa sebanyak 400 kg/Ha. Pemberian kapur dilakukan seperti pemberian pupuk kandang, yaitu ditaburkan membentuk larikan/baris.
Pembuatan atau perbaikan drainase untuk melancarkan pembuangan air saat musim hujan. Pembersihan gulma menggunakan herbisida pra-tumbuh, dosis/konsentrasi sesuai petunjuk kemasan. Setelah penyemprotan herbisida pratumbuh lahan dibiarkan selama 10 hari.
Persiapan Benih dan Penanaman Budidaya Jagung
Persiapan
benih sebanyak 6 Kg/Ha, termasuk cadangan penyulaman. Sebelum ditanam,
benih terlebih dahulu direndam dalam larutan insektisida selama 1 jam,
contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah profenofos, betasiflutrin,
klorpirifos, atau lamdasihalotrin, dosis/konsentrasi sesuai petunjuk
kemasan. Tujuan perendaman benih jagung ini adalah untuk mengantisipasi
serangan semut setelah benih jagung ditanam.
Buat lubang tanam berjarak 40 cm sekaligus buat lubang sebagai tempat pemupukan dengan jarak 10 cm dari lubang tanam. Jarak antarbaris selebar 70 cm. Tanam benih jagung yang sudah direndam dalam larutan insektisida sebanyak dua butir per lubang tanam. Setelah itu lakukan pemupukan pada lubang pemupukan yang sudah dipersiapkan dengan perbandingan 2 NPK 15-15-15 dan 1 urea. Dosis pemupukan sebanyak 1 sendok makan per lubang.
Buat lubang tanam berjarak 40 cm sekaligus buat lubang sebagai tempat pemupukan dengan jarak 10 cm dari lubang tanam. Jarak antarbaris selebar 70 cm. Tanam benih jagung yang sudah direndam dalam larutan insektisida sebanyak dua butir per lubang tanam. Setelah itu lakukan pemupukan pada lubang pemupukan yang sudah dipersiapkan dengan perbandingan 2 NPK 15-15-15 dan 1 urea. Dosis pemupukan sebanyak 1 sendok makan per lubang.
Pemeliharaan Tanaman Pada Budidaya Jagung
Penyulaman Budidaya Jagung
Penyulaman
budidaya jagung dilakukan umur tanaman 7 hari setelah penanaman.
Penyulaman dilakukan untuk mengganti benih jagung yang tidak tumbuh atau
benih jagung yang terserang hama, seperti ulat.
Sanitasi Lahan Pada Budidaya Jagung
Sanitasi
lahan budidaya jagung meliputi pengendalian gulma, pengaturan air.
Pengendalian gulma dikukan dengan cara penyiangan menggunakan cangkul.
Pencangkulan dilakukan tipis hanya untuk memotong gulma di permukaan.
Setelah itu tanah bekas cangkulan dibalik lalu digunakan untuk menimbun
batang tanaman jagung agar lebih kuat bila diterpa angin. Pengaturan air
dilakukan dengan memperbaiki saluran irigasi saat musim hujan, atau
penggenangan lahan bila diperlukan saat musim kemarau.
Pemupukan Susulan Budidaya Jagung
Pupuk
akar diberikan dengan cara membuat lubang pemupukan berjarak 15 cm dari
batang, kemudian pupuk diberikan pada lubang yang sudah dibuat lalu
ditutup lagi menggunakan tanah. Pemupukan pertama diberikan umur 25 hari
dengan perbandingan 2 NPK 15-15-15 dan 1 urea. Berikan pupuk sebanyak 1
sendok makan per lubang tanam. Pemupukan kedua diberikan saat tanaman
jagung berumur 50 hari menggunakan NPK 15-15-15. Dosis pemupukan 1
sendok makan per-lubang tanam.
Pupuk daun berkandungan nitrogen tinggi diberikan saat umur 15, 22, 29, dan 36 hari, sedangkan pupuk daun berkandungan phosphat dan kalium tinggi diberikan saat umur 40, 47, 54, 61 hari.
Pupuk daun berkandungan nitrogen tinggi diberikan saat umur 15, 22, 29, dan 36 hari, sedangkan pupuk daun berkandungan phosphat dan kalium tinggi diberikan saat umur 40, 47, 54, 61 hari.
HAMA PENYAKIT TANAMAN JAGUNG
HAMA
Ulat Tanah (Agrotis sp.)
Hama
jenis ini menyerang tanaman jagung muda di malam hari, sedangkan siang
harinya bersembunyi di dalam tanah. Ulat tanah menyerang batang tanaman
jagung muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga
ulat pemotong. Pengendalian hama ulat tanah dapat dilakukan menggunakan
insektisida biologi dari golongan bakteri seperti Bacilius
thuringiensis atau insektisida biologi dari golongan jamur seperti Beauvaria bassiana.
Secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif
profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau
lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk kemasan.
Belalang (Locusta sp., dan Oxya chinensis)
Seperti
ulat tanah, hama jenis ini menyerang tanaman jagung saat masih muda,
yaitu dengan cara memakan tunas jagung yang baru tumbuh. Pengendalian
secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif
profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau
lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk kemasan.
Hama belalang tanaman jagung merupakan hama migran dimana tingkat kerusakannya tergantung jumlah populasinya serta tipe tanaman yang diserang.
Gejala serangan :
Hama ini menyerang terutama pada bagian daun tanaman jagung, daun terlihat rusak karena serangan dari belalang tersebut, jika populasinya banyak lalu belalang sedang dalam keadaan kelaparan, hama ini bisa menghabiskan sekaligus dengan tulang-tulang daunnya.
Hama belalang tanaman jagung merupakan hama migran dimana tingkat kerusakannya tergantung jumlah populasinya serta tipe tanaman yang diserang.
Gejala serangan :
Hama ini menyerang terutama pada bagian daun tanaman jagung, daun terlihat rusak karena serangan dari belalang tersebut, jika populasinya banyak lalu belalang sedang dalam keadaan kelaparan, hama ini bisa menghabiskan sekaligus dengan tulang-tulang daunnya.
Kumbang Bubuk (Sitophilus zeamais)
Kerusakan biji oleh kumbang bubuk dapat mencapai 85% dengan penyusutan bobot biji 17%. Sitophilus zeamais dikenal dengan Maize weevil atau kumbang bubuk, merupakan serangga bersifat polifag.
Selain menyerang buah jagung, hama kumbang bubuk juga menyerang beras, gandum, kacang tanah, kacang kapri, kacang kedelai, kelapa, jambu mente. Namun, S. Zeamais lebih dominan menyerang buah jagung dan beras daripada lainnya. S. zeamais juga merusak biji jagung dalam penyimpanan serta juga dapat menyerang tongkol jagung yang masih berada di areal budidaya.
Telur diletakkan satu per satu pada lubang gerekan di dalam biji, Keperidian imago sekitar 300-400 butir telur, stadia telur kurang lebih enam hari pada suhu 250 derajat celcius. Larva menggerek biji dan hidup di dalam biji, umur kurang lebih 20 hari pada suhu 250derajat celcius dan kelembaban nisbi 70%. Pupa terbentuk di dalam biji dengan stadia pupa berkisar 5-8 hari.
Imago yang terbentuk berada di dalam biji selama beberapa hari sebelum membuat lubang keluar. Imago dapat bertahan hidup cukup lama yaitu dengan makan sekitar 3-5 bulan jika tersedia makanan serta sekitar 36 hari jika tanpa makan.
Siklus hidup sekitar 30-45 hari pada kondisi suhu optimum 290 derajat celcius, kadar air biji 14%, kelembaban nisbi 70%. Perkembangan populasi menjadi sangat cepat bila bahan simpanan kadar airnya di atas 15%.
Pengendalian
a) Pengelolaan Tanaman Jagung
Serangan selama tanaman areal budidaya dapat terjadi jika tongkol terbuka. Tanaman jagung yang kekeringan, dengan pemberian pupuk yang rendah menyebabkan tanaman jagung mudah terserang busuk tongkol sehingga dapat diinfeksi oleh kumbang bubuk. Ketepatan waktu panen saat buah jagung mencapai masak fisiologis harus dilakukan, bertujuan mencegah Sitophilus zeamais, karena panen yang tertunda dapat menyebabkan meningkatnya kerusakan biji jagung di tempat penyimpanan.
b) Varietas Jagung Resisten/Tahan
Penggunaan varietas jagung dengan kandungan asam fenolat tinggi dan kandungan asam aminonya rendah dapat menekan kumbang bubuk, dan penggunaan varietas yang mempunyai penutupan kelobot yang baik.
c) Kebersihan dan Pengelolaan Gudang Tempat Penyimpanan Jagung
Kebanyakan hama gudang cenderung bersembunyi atau melakukan hibernasi sesudah gudang tersebut kosong. Untuk itu, perlu dilakukan pembersihan semua struktur gudang serta membakar semua biji yang terkontaminasi lalu membuangnya jauh dari area gudang penyimpanan jagung. Selain itu, karung-karung bekas yang masih berisi sisa biji jagung juga harus dibuang jauh. Memperbaiki semua struktur gudang, termasuk dinding retak karena pada dinding retak tersebut serangga ini dapat bersembunyi, lalu berikan juga perlakuan insektisida baik pada dinding maupun plafon gudang tempat penyimpanan jagung.
d) Persiapan Biji Jagung yang Disimpan
Kadar air biji jagung ≤ 12% dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Perkembangan populasi kumbang bubuk akan meningkat pada kadar air 15% atau lebih.
e) Fisik dan Mekanis
Pada suhu lebih rendah dari 50derajat celcius dan di atas 350 derajat celcius perkembangan serangga akan berhenti. Penjemuran biji jagung dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Sortasi perlu dilakukan dengan memisahkan biji jagung rusak terinfeksi oleh serangga dengan biji sehat(utuh).
f) Bahan Tanaman
Bahan nabati yang dapat digunakan yaitu daun Annona sp., Hyptis spricigera, Lantana camara, Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata, akar dari Khaya senegelensis, Acorus calamus, bunga dari Pyrethrum sp., Capsicum sp., dan tepung biji dari Annona sp. dan Melia sp.
g) Hayati
Penggunaan agensia patogen dapat mengendalikan kumbang bubuk seperti Beauveria bassiana pada konsentrasi 109 konidia/ml takaran 20 ml/kg biji dapat mencapai mortalitas 50%. Penggunaan parasitoid Anisopteromalus calandrae (Howard) juga mampu menekan kumbang bubuk.
h) Fumigasi
Fumigan merupakan senyawa kimia yang dalam suhu dan tekanan tertentu berbentuk gas, fumigasi dapat membunuh serangga/hama melalui sistem pernapasan. Fumigasi dapat dilakukan pada tumpukan komoditas jagung kemudian ditutup rapat menggunaakn lembaran plastik. Fumigasi dapat pula dilakukan pada penyimpanan kedap udara seperti penyimpanan dalam silo, dengan menggunakan kaleng yang dibuat kedap udara atau pengemasan menggunakan jerigen plastik, botol yang diisi sampai penuh kemudian mulut botol atau jerigen dilapisi parafin untuk penyimpanan skala kecil. Jenis fumigan yang paling banyak digunakan adalah phospine (PH3), dan Methyl Bromida (CH3Br).
Selain menyerang buah jagung, hama kumbang bubuk juga menyerang beras, gandum, kacang tanah, kacang kapri, kacang kedelai, kelapa, jambu mente. Namun, S. Zeamais lebih dominan menyerang buah jagung dan beras daripada lainnya. S. zeamais juga merusak biji jagung dalam penyimpanan serta juga dapat menyerang tongkol jagung yang masih berada di areal budidaya.
Telur diletakkan satu per satu pada lubang gerekan di dalam biji, Keperidian imago sekitar 300-400 butir telur, stadia telur kurang lebih enam hari pada suhu 250 derajat celcius. Larva menggerek biji dan hidup di dalam biji, umur kurang lebih 20 hari pada suhu 250derajat celcius dan kelembaban nisbi 70%. Pupa terbentuk di dalam biji dengan stadia pupa berkisar 5-8 hari.
Imago yang terbentuk berada di dalam biji selama beberapa hari sebelum membuat lubang keluar. Imago dapat bertahan hidup cukup lama yaitu dengan makan sekitar 3-5 bulan jika tersedia makanan serta sekitar 36 hari jika tanpa makan.
Siklus hidup sekitar 30-45 hari pada kondisi suhu optimum 290 derajat celcius, kadar air biji 14%, kelembaban nisbi 70%. Perkembangan populasi menjadi sangat cepat bila bahan simpanan kadar airnya di atas 15%.
Pengendalian
a) Pengelolaan Tanaman Jagung
Serangan selama tanaman areal budidaya dapat terjadi jika tongkol terbuka. Tanaman jagung yang kekeringan, dengan pemberian pupuk yang rendah menyebabkan tanaman jagung mudah terserang busuk tongkol sehingga dapat diinfeksi oleh kumbang bubuk. Ketepatan waktu panen saat buah jagung mencapai masak fisiologis harus dilakukan, bertujuan mencegah Sitophilus zeamais, karena panen yang tertunda dapat menyebabkan meningkatnya kerusakan biji jagung di tempat penyimpanan.
b) Varietas Jagung Resisten/Tahan
Penggunaan varietas jagung dengan kandungan asam fenolat tinggi dan kandungan asam aminonya rendah dapat menekan kumbang bubuk, dan penggunaan varietas yang mempunyai penutupan kelobot yang baik.
c) Kebersihan dan Pengelolaan Gudang Tempat Penyimpanan Jagung
Kebanyakan hama gudang cenderung bersembunyi atau melakukan hibernasi sesudah gudang tersebut kosong. Untuk itu, perlu dilakukan pembersihan semua struktur gudang serta membakar semua biji yang terkontaminasi lalu membuangnya jauh dari area gudang penyimpanan jagung. Selain itu, karung-karung bekas yang masih berisi sisa biji jagung juga harus dibuang jauh. Memperbaiki semua struktur gudang, termasuk dinding retak karena pada dinding retak tersebut serangga ini dapat bersembunyi, lalu berikan juga perlakuan insektisida baik pada dinding maupun plafon gudang tempat penyimpanan jagung.
d) Persiapan Biji Jagung yang Disimpan
Kadar air biji jagung ≤ 12% dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Perkembangan populasi kumbang bubuk akan meningkat pada kadar air 15% atau lebih.
e) Fisik dan Mekanis
Pada suhu lebih rendah dari 50derajat celcius dan di atas 350 derajat celcius perkembangan serangga akan berhenti. Penjemuran biji jagung dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Sortasi perlu dilakukan dengan memisahkan biji jagung rusak terinfeksi oleh serangga dengan biji sehat(utuh).
f) Bahan Tanaman
Bahan nabati yang dapat digunakan yaitu daun Annona sp., Hyptis spricigera, Lantana camara, Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata, akar dari Khaya senegelensis, Acorus calamus, bunga dari Pyrethrum sp., Capsicum sp., dan tepung biji dari Annona sp. dan Melia sp.
g) Hayati
Penggunaan agensia patogen dapat mengendalikan kumbang bubuk seperti Beauveria bassiana pada konsentrasi 109 konidia/ml takaran 20 ml/kg biji dapat mencapai mortalitas 50%. Penggunaan parasitoid Anisopteromalus calandrae (Howard) juga mampu menekan kumbang bubuk.
h) Fumigasi
Fumigan merupakan senyawa kimia yang dalam suhu dan tekanan tertentu berbentuk gas, fumigasi dapat membunuh serangga/hama melalui sistem pernapasan. Fumigasi dapat dilakukan pada tumpukan komoditas jagung kemudian ditutup rapat menggunaakn lembaran plastik. Fumigasi dapat pula dilakukan pada penyimpanan kedap udara seperti penyimpanan dalam silo, dengan menggunakan kaleng yang dibuat kedap udara atau pengemasan menggunakan jerigen plastik, botol yang diisi sampai penuh kemudian mulut botol atau jerigen dilapisi parafin untuk penyimpanan skala kecil. Jenis fumigan yang paling banyak digunakan adalah phospine (PH3), dan Methyl Bromida (CH3Br).
Lalat Bibit (Atherigona sp.)
Lalat
bibit hanya ditemukan di daerah Jawa dan Sumatera. Hama lalt bibit ini
dapat merusak budidaya jagung hingga 80% dan bahkan puso. Lama hidup
serangga dewasa bervariasi antara lima sampai 23 hari, serangga betina
hidup dua kali lebih lama daripada serangga jantan. Serangga dewasa
sangat aktif terbang, juga sangat tertarik pada kecambah atau tanaman
jagung muda yang baru muncul di atas permukaan tanah. Imago kecil
berukuran panjang 2,5-4,5 mm.
Telur Imago betina mulai meletakkan telur tiga sampai lima hari setelah kawin dengan jumlah telur tujuh sampai 22 butir atau bahkan hingga 70 butir. Imago betina meletakkan selama tiga sampai tujuh hari, diletakkan secara tunggal, berwarna putih, memanjang, diletakkan dibawah permukaan daun.
Larva terdiri dari tiga instar berwarna putih krem pada awalnya kemudian selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap. Larva yang baru menetas melubangi batang, kemudian membuat terowongan sampai dasar batang, sehingga tanaman jagung menjadi kuning, akhirnya mati.
Pupa terdapat pada pangkal batang tanaman jagung dekat atau di bawah permukaan tanah, umur pupa 12 hari pada pagi atau sore hari. Puparium berwarna coklat kemerah-merahan sampai coklat, berukuran panjang 4,1 mm.
Pengendalian
a) Hayati
- Parasitoid Trichogramma spp. Yang memarasit telur, Opius sp. dan Tetrastichus sp. Memarasit larva.
- Predator Clubiona japonicola yang merupakan predator imago.
b) Kultur Teknis
Oleh karena aktivitas lalat bibit hanya selama satu sampai dua bulan saat musim hujan, dengan mengubah waktu tanam, pergiliran tanaman dengan tanaman bukan famili jagung, serta tanam serempak dapat menghindari serangan lalat bibit.
c) Varietas Resisten
Galur-galur jagung QPM putih tahan terhadap lalat bibit adalah MSQ-P1(S1)-C1-11, MSQ-P1(S1)-C1-12, MSQ-P1(S1)-C1-44, MSQ-P1(S1)-C1-45. Galur-galur jagung QPM kuning tahan terhadap serangga hama ini adalah MSQ-K1(S1)-C1-16, MSQ-K1(S1)-C1-35, MSQ-K1(S1)-C1-50.
d) Kimiawi
Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida dapat dilakukan dengan perlakuan benih (seed dressing) yaitu thiodikarb dengan dosis 7,5-15 g b.a./kg (bahan aktif/kg) benih atau karbofuran dengan dosis 6 g b.a./kg benih. Selanjutnya setelah tanaman jagung berumur 5-7 hari, tanaman jagung disemprot menggunakan karbosulfan, dosis 0,2 kg b.a./ha atau thiodikarb 0,75 kg b.a/ha. Penggunaan insektisida hanya dianjurkan di daerah endemik.
Gejala :
tanaman jagung muda baru tumbuh menguning karena larva baru menetas melubangi batang, kemudian membuat terowongan hingga ke dasar batang sehingga tanaman jagung menguning dan akhirnya mati. Jika tanaman jagung kemudian mengalami recovery (proses penyembuhan), maka pertumbuhannya akan kerdil.
Telur Imago betina mulai meletakkan telur tiga sampai lima hari setelah kawin dengan jumlah telur tujuh sampai 22 butir atau bahkan hingga 70 butir. Imago betina meletakkan selama tiga sampai tujuh hari, diletakkan secara tunggal, berwarna putih, memanjang, diletakkan dibawah permukaan daun.
Larva terdiri dari tiga instar berwarna putih krem pada awalnya kemudian selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap. Larva yang baru menetas melubangi batang, kemudian membuat terowongan sampai dasar batang, sehingga tanaman jagung menjadi kuning, akhirnya mati.
Pupa terdapat pada pangkal batang tanaman jagung dekat atau di bawah permukaan tanah, umur pupa 12 hari pada pagi atau sore hari. Puparium berwarna coklat kemerah-merahan sampai coklat, berukuran panjang 4,1 mm.
Pengendalian
a) Hayati
- Parasitoid Trichogramma spp. Yang memarasit telur, Opius sp. dan Tetrastichus sp. Memarasit larva.
- Predator Clubiona japonicola yang merupakan predator imago.
b) Kultur Teknis
Oleh karena aktivitas lalat bibit hanya selama satu sampai dua bulan saat musim hujan, dengan mengubah waktu tanam, pergiliran tanaman dengan tanaman bukan famili jagung, serta tanam serempak dapat menghindari serangan lalat bibit.
c) Varietas Resisten
Galur-galur jagung QPM putih tahan terhadap lalat bibit adalah MSQ-P1(S1)-C1-11, MSQ-P1(S1)-C1-12, MSQ-P1(S1)-C1-44, MSQ-P1(S1)-C1-45. Galur-galur jagung QPM kuning tahan terhadap serangga hama ini adalah MSQ-K1(S1)-C1-16, MSQ-K1(S1)-C1-35, MSQ-K1(S1)-C1-50.
d) Kimiawi
Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida dapat dilakukan dengan perlakuan benih (seed dressing) yaitu thiodikarb dengan dosis 7,5-15 g b.a./kg (bahan aktif/kg) benih atau karbofuran dengan dosis 6 g b.a./kg benih. Selanjutnya setelah tanaman jagung berumur 5-7 hari, tanaman jagung disemprot menggunakan karbosulfan, dosis 0,2 kg b.a./ha atau thiodikarb 0,75 kg b.a/ha. Penggunaan insektisida hanya dianjurkan di daerah endemik.
Gejala :
tanaman jagung muda baru tumbuh menguning karena larva baru menetas melubangi batang, kemudian membuat terowongan hingga ke dasar batang sehingga tanaman jagung menguning dan akhirnya mati. Jika tanaman jagung kemudian mengalami recovery (proses penyembuhan), maka pertumbuhannya akan kerdil.
Ulat Grayak (Spodoptera sp.)
Larva
yang masih kecil merusak daun tanaman jagung lalu menyerang secara
serentak berkelompok, meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas,
transparan serta tinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya larva berada
di permukaan bawah daun tanaman jagung, umumnya terjadi saat musim
kemarau.
Pengendalian secara fisik dapat dilakukan menggunakan alat perangkap ngengat sexferomonoid sebanyak 40 buah/Ha semenjak tanaman jagung berumur 2 minggu.
Penggunaan agensia hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami seperti : Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae. Serta dari golongan bakteri yaitu Bacillus thuringensis. Pemanfaatan patogen virus untuk ulat ini juga dapat dilakukan menggunakan Sl-NPV (Spodoptera litura-Nuclear Polyhedrosis Virus). Parasit lain yang dapat dimanfaatkan adalah Parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp.
Pengendalian secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk kemasan.
Kemampuan ulat grayak merusak tanaman jagung berkisar antara 5-50%. Ngengat aktif malam hari, sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputihan. Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang tersusun 2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 25–500 butir) tertutup bulu seperti beludru.
Larva mempunyai warna bervariasi, ulat baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan, hidup berkelompok. Ulat menyerang tanaman jagung di malam hari, sedangkan siang harinya bersembunyi dalam tanah (tempat-tempat lembab). Biasanya ulat berpindah dari tanaman jagung satu ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar.
Pupa, ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwana coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm.
Siklus hidup berkisar antara 30 – 60 hari (lama stadium telur 2–4 hari, larva terdiri dari 5 instar : 20-46 hari, pupa 8–11 hari).
Tanaman Inang hama ini bersifat polifag, selain jagung juga menyerang tomat, kubis, cabai, buncis, bawang merah, terung, kentang, kangkung, bayam, padi, tebu, jeruk, pisang, tembakau, kacang-kacangan, tanaman hias, gulma Limnocharis sp., Passiflora foetida, Ageratum sp., Cleome sp., Trema sp.
Pengendalian secara fisik dapat dilakukan menggunakan alat perangkap ngengat sexferomonoid sebanyak 40 buah/Ha semenjak tanaman jagung berumur 2 minggu.
Penggunaan agensia hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami seperti : Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae. Serta dari golongan bakteri yaitu Bacillus thuringensis. Pemanfaatan patogen virus untuk ulat ini juga dapat dilakukan menggunakan Sl-NPV (Spodoptera litura-Nuclear Polyhedrosis Virus). Parasit lain yang dapat dimanfaatkan adalah Parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp.
Pengendalian secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk kemasan.
Kemampuan ulat grayak merusak tanaman jagung berkisar antara 5-50%. Ngengat aktif malam hari, sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputihan. Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang tersusun 2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 25–500 butir) tertutup bulu seperti beludru.
Larva mempunyai warna bervariasi, ulat baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan, hidup berkelompok. Ulat menyerang tanaman jagung di malam hari, sedangkan siang harinya bersembunyi dalam tanah (tempat-tempat lembab). Biasanya ulat berpindah dari tanaman jagung satu ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar.
Pupa, ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwana coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm.
Siklus hidup berkisar antara 30 – 60 hari (lama stadium telur 2–4 hari, larva terdiri dari 5 instar : 20-46 hari, pupa 8–11 hari).
Tanaman Inang hama ini bersifat polifag, selain jagung juga menyerang tomat, kubis, cabai, buncis, bawang merah, terung, kentang, kangkung, bayam, padi, tebu, jeruk, pisang, tembakau, kacang-kacangan, tanaman hias, gulma Limnocharis sp., Passiflora foetida, Ageratum sp., Cleome sp., Trema sp.
Penggerek Tongkol (Heliotis armigera, Helicoverpa armigera.)
Imago
betina akan meletakkan telur pada silk (rambut) jagung. Rata-rata
produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga
hari setelah diletakkan, sesaat setelah menetas larva akan menginvasi
masuk kedalam tongkol lalu akan memakan biji jagung yang sedang
mengalami perkembangan. Infeksi serangga ini akan menurunkan kualitas
dan kuantitas tongkol jagung.
pada lubang-lubang bekas gorokan hama ini terdapat kotoran-kotoran yang berasal dari hama tersebut, biasanya hama ini lebih dahulu menyerang pada tangkai bunga tanaman jagung.
Musuh alami yang digunakan sebagai pengendali hayati dan cukup efektif untuk mengendalikan penggerek tongkol adalah Parasit, Trichogramma spp yang merupakan parasit telur dan Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit pada larva muda. Cendawan Metarhizium anisopliae menginfeksi larva.
Pengendalian kimiawi setelah terbentuk rambut jagung pada tongkol dan selang 1-2 hari hingga rambut jagung berwarna coklat.
pada lubang-lubang bekas gorokan hama ini terdapat kotoran-kotoran yang berasal dari hama tersebut, biasanya hama ini lebih dahulu menyerang pada tangkai bunga tanaman jagung.
Musuh alami yang digunakan sebagai pengendali hayati dan cukup efektif untuk mengendalikan penggerek tongkol adalah Parasit, Trichogramma spp yang merupakan parasit telur dan Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit pada larva muda. Cendawan Metarhizium anisopliae menginfeksi larva.
Pengendalian kimiawi setelah terbentuk rambut jagung pada tongkol dan selang 1-2 hari hingga rambut jagung berwarna coklat.
Penggerek Batang (Ostrinia fumacalis)
Hama
ini menyerang semua bagian tanaman jagung pada seluruh fase
pertumbuhan. Kehilangan hasil akibat serangannya dapat mencapai 80%.
Merupakan salah satu hama utama pada tanaman jagung sehingga perlu
diwaspadai. Besarnya kehilangan hasil dipengaruhi oleh padat populasi
larva serta umur tanaman saat terserang. Ngengat aktif malam hari,
menghasilkan beberapa generasi per tahun, umur imago/ngengat dewasa 7-11
hari. Telur berwarna putih, diletakkan berkelompok, satu kelompok telur
beragam antara 30-50 butir, seekor ngengat betina mampu meletakkan
telur 602-817 butir, umur telur 3-4 hari. Ngengat betina lebih menyukai
meletakkan telur pada tanaman jagung yang tinggi lalu telur di letakkan
pada permukaan bagian bawah daun utamanya pada daun ke 5-9, umur telur
3-4 hari.
Larva baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindah-pindah, larva muda makan pada bagian alur bunga jantan, setelah instar lanjut menggerek batang, umur larva 17-30 hari. Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna coklat kemerah merahan, umur pupa 6-9 hari.
Gejala Serangan
Larva O. furnacalis ini mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun tanaman jagung, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak.
Pengendalian
Larva baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindah-pindah, larva muda makan pada bagian alur bunga jantan, setelah instar lanjut menggerek batang, umur larva 17-30 hari. Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna coklat kemerah merahan, umur pupa 6-9 hari.
Gejala Serangan
Larva O. furnacalis ini mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun tanaman jagung, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak.
Pengendalian
- Kultur teknis
- Waktu tanam yang tepat,
- Tumpangsari jagung dengan kedelai atau kacang tanah.
- Pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman) (dettaselling)
Hayati
Pemanfaatan musuh alami seperti :
- Parasitoid Trichogramma spp. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O. furnacalis.
- Predator Euborellia annulata memangsa larva dan pupa O. furnacalis.
- Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. furnacalis.
- Cendawan Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae mengendalikan larva O. furnacalis. Ambang ekonomi 1 larva/tanaman.
Kimiawi
Pengendalian secara kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, karbofuran efektif untuk menekan serangan penggerek batang jagung.
Gejala :
Kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang tanaman jagung, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak.
Kutu Daun (Mysus persicae)
Hama kutu daun pada tanaman jagung adalah Mysus persicae.
Hama ini mengisap cairan tanaman jagung terutama pada daun muda,
kotorannya berasa manis sehingga menggundang semut dan berpotensi
menimbulkan serangan sekunder yaitu cendawan jelaga. Serangan parah
menyebabkan daun tanaman jagung mengalami klorosis(kuning), dan
menggulung. Kutu ini juga menjadi serangga vektor penular virus mosaik.
Pengendalian hama Mysus persicae dengan penyemprotan insektisida
berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir,
sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk
kemasan.
PENYAKIT
Hawar Daun (Helmithosporium turcicum)
Gejala
Pada awal terinfeksi maka gejala berupa bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik yang disebut hawar, warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5_15 cm, bercak muncul dimulai pada daun terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi berat dapat mengakibatkan tanaman jagung cepat mati atau mengering, dan cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot. Cendawan ini dapat bertahan hidup dalam bentuk miselium dorman pada daun tanaman jagung atau pada sisa sisa tanaman jagung di areal budidaya.
Penyebab
Penyakit hawar daun disebabkan oleh Helminthosporium turcicum.
Pengendalian
- Menanam varietas tahan Bisma, Pioner-2, pioner-14, Semar-2 dan semar-5.
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman jagung sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman) yang terinfeksi bercak daun.
- Penggunaan fungisida, bahan aktif mankozeb dan dithiocarbamate.
Pada awal terinfeksi maka gejala berupa bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik yang disebut hawar, warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5_15 cm, bercak muncul dimulai pada daun terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi berat dapat mengakibatkan tanaman jagung cepat mati atau mengering, dan cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot. Cendawan ini dapat bertahan hidup dalam bentuk miselium dorman pada daun tanaman jagung atau pada sisa sisa tanaman jagung di areal budidaya.
Penyebab
Penyakit hawar daun disebabkan oleh Helminthosporium turcicum.
Pengendalian
- Menanam varietas tahan Bisma, Pioner-2, pioner-14, Semar-2 dan semar-5.
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman jagung sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman) yang terinfeksi bercak daun.
- Penggunaan fungisida, bahan aktif mankozeb dan dithiocarbamate.
Busuk Pelepah (Rhizoctonia solani)
Gejala
Penyakit busuk pelepah pada tanaman jagung umumnya terjadi pada pelepah daun, gejala bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah menjadi abu-abu, selanjutnya bercak meluas dan seringkali diikuti pembentukan sklerotium dengan bentuk yang tidak beraturan berwarna putih kemudian berubah menjadi cokelat.
Gejala penyakit ini dimulai dari bagian tanaman jagung yang paling dekat dengan permukaan tanah dan menjalar ke bagian atas, pada varietas yang tidak tahan penyakit ini (rentan) serangan cendawan dapat mencapai pucuk atau tongkol jagung. Cendawan ini bertahan hidup sebagai miselium dan sklerotium pada biji jagung, di tanah dan pada sisa-sisa tanaman jagung di areal budidaya. Keadaan tanah basah, lembab, serta drainase kurang baik akan merangsang pertumbuhan miselium maupun sklerotia, sehingga merupakan sumber inokulum utama.
Penyebab
Penyebab penyakit busuk pelepah adalah Rhizoctonia solani.
Pengendalian
- Menggunakan varietas/galur tahan sampai agak tahan terhadap penyakit hawar pelepah, seperti : Semar-2, Rama, Galur GM 27.
- Diusahakan agar pertanaman tidak terlalu rapat sehingga kelembaban tidak terlalu tinggi.
- Lahan mempunyai drainase yang baik.
- Pergiliran tanaman, tidak budidaya jagung secara terus menerus di lahan yang sama.
- Penggunaan fungisida, bahan aktif mancozeb dan karbendazim.
Penyakit busuk pelepah pada tanaman jagung umumnya terjadi pada pelepah daun, gejala bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah menjadi abu-abu, selanjutnya bercak meluas dan seringkali diikuti pembentukan sklerotium dengan bentuk yang tidak beraturan berwarna putih kemudian berubah menjadi cokelat.
Gejala penyakit ini dimulai dari bagian tanaman jagung yang paling dekat dengan permukaan tanah dan menjalar ke bagian atas, pada varietas yang tidak tahan penyakit ini (rentan) serangan cendawan dapat mencapai pucuk atau tongkol jagung. Cendawan ini bertahan hidup sebagai miselium dan sklerotium pada biji jagung, di tanah dan pada sisa-sisa tanaman jagung di areal budidaya. Keadaan tanah basah, lembab, serta drainase kurang baik akan merangsang pertumbuhan miselium maupun sklerotia, sehingga merupakan sumber inokulum utama.
Penyebab
Penyebab penyakit busuk pelepah adalah Rhizoctonia solani.
Pengendalian
- Menggunakan varietas/galur tahan sampai agak tahan terhadap penyakit hawar pelepah, seperti : Semar-2, Rama, Galur GM 27.
- Diusahakan agar pertanaman tidak terlalu rapat sehingga kelembaban tidak terlalu tinggi.
- Lahan mempunyai drainase yang baik.
- Pergiliran tanaman, tidak budidaya jagung secara terus menerus di lahan yang sama.
- Penggunaan fungisida, bahan aktif mancozeb dan karbendazim.
Penyakit Bulai (Peronosclerospora maydis)
Penyakit
bulai merupakan penyakit utama tanaman jagung. Penyakit ini menyerang
tanaman jagung khususnya varietas rentan hama penyakit dan umur muda
(antara 1 - 2 minggu setelah tanam). Kehilangan hasil jagung akibat
penularan penyakit bulai dapat mencapai 100% pada varietas rentan.
Gejala
Gejala khas bulai adalah adanya warna khlorotik memanjang sejajar tulang daun dengan batas yang jelas antara daun sehat. Pada daun permukaan atas dan bawah terdapat warna putih seperti tepung, akan terlihat sangat jelas di pagi hari. Selanjutnya pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat, termasuk pembentukan tongkol jagung, bahkan tongkol jagung tidak terbentuk, daun-daun tanaman jagung menggulung serta terpuntir, bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan.
Penyakit bulai tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik yang meluas ke seluruh bagian tanaman jagung dan menimbulkan gejala lokal (setempat). Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun tanaman jagung yang dibentuk terinfeksi. Tanaman jagung yang terinfeksi penyakit bulai ketika berumur masih muda umumnya tidak menghasilkan buah, tetapi bila terinfeksi pada tanaman yang sudah tua namun masih terbentuk buah, umumnya pertumbuhannya kerdil.
Penyebab
Penyakit bulai di Indonesia disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis dan Peronosclerospora philippinensis yang luas sebarannya, sedangkan Peronosclerospora sorghii hanya ditemukan di dataran tinggi Berastagi Sumatera Utara dan Batu Malang Jawa Timur.
Pengendalian
- Menanam varietas tahan: Bima 1, Bima 3, Bima 9, Bima 14, Bima 15, Lagaligo, dan Gumarang.
- Melakukan periode waktu yang bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan.
- Penanaman jagung secara serempak.
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman jagung sampai keakarnya (Eradikasi tanaman) yang terserang penyakit bulai.
- Penggunaan fungisida metalaksil pada benih jagung (perlakuan benih), dosis 2 gram (0,7 g bahan aktif) per kg benih
Gejala
Gejala khas bulai adalah adanya warna khlorotik memanjang sejajar tulang daun dengan batas yang jelas antara daun sehat. Pada daun permukaan atas dan bawah terdapat warna putih seperti tepung, akan terlihat sangat jelas di pagi hari. Selanjutnya pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat, termasuk pembentukan tongkol jagung, bahkan tongkol jagung tidak terbentuk, daun-daun tanaman jagung menggulung serta terpuntir, bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan.
Penyakit bulai tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik yang meluas ke seluruh bagian tanaman jagung dan menimbulkan gejala lokal (setempat). Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun tanaman jagung yang dibentuk terinfeksi. Tanaman jagung yang terinfeksi penyakit bulai ketika berumur masih muda umumnya tidak menghasilkan buah, tetapi bila terinfeksi pada tanaman yang sudah tua namun masih terbentuk buah, umumnya pertumbuhannya kerdil.
Penyebab
Penyakit bulai di Indonesia disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis dan Peronosclerospora philippinensis yang luas sebarannya, sedangkan Peronosclerospora sorghii hanya ditemukan di dataran tinggi Berastagi Sumatera Utara dan Batu Malang Jawa Timur.
Pengendalian
- Menanam varietas tahan: Bima 1, Bima 3, Bima 9, Bima 14, Bima 15, Lagaligo, dan Gumarang.
- Melakukan periode waktu yang bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan.
- Penanaman jagung secara serempak.
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman jagung sampai keakarnya (Eradikasi tanaman) yang terserang penyakit bulai.
- Penggunaan fungisida metalaksil pada benih jagung (perlakuan benih), dosis 2 gram (0,7 g bahan aktif) per kg benih
Busuk Tongkol
a. Busuk tongkol Fusarium
Gejala
Gejala penyakit ini permukaan biji pada tongkol berwarna merah jambu sampai coklat, kadang-kadang diikuti oleh pertumbuhan miselium seperti kapas berwarna merah jambu. Cendawan berkembang pada sisa tanaman jagung serta di dalam tanah, cendawan ini dapat terbawa benih, dan penyebarannya dapat melalui angin atau tanah.;
Penyakit busuk tongkol Fusarium disebabkan oleh infeksi cendawan Fusarium moniliforme.
Gejala penyakit ini permukaan biji pada tongkol berwarna merah jambu sampai coklat, kadang-kadang diikuti oleh pertumbuhan miselium seperti kapas berwarna merah jambu. Cendawan berkembang pada sisa tanaman jagung serta di dalam tanah, cendawan ini dapat terbawa benih, dan penyebarannya dapat melalui angin atau tanah.;
Penyakit busuk tongkol Fusarium disebabkan oleh infeksi cendawan Fusarium moniliforme.
b. Busuk tongkol Diplodia
Gejala
Kelobot yang terinfeksi pada umumnya berwarna coklat, infeksi pada kelobot setelah 2 minggu keluarnya rambut jagung, menyebabkan biji berubah menjadi coklat, kisut dan busuk. Miselium berwarna putih, piknidia berwarna hitam tersebar pada kelobot. Infeksi dimulai pada dasar tongkol berkembang ke bongkol kemudian merambat ke permukaan biji dan menutupi kelobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk spora dan piknidia yang berdinding tebal pada sisa tanaman di lapangan.
Gejala busuk tongkol Diplodia disebabkan oleh infeksi cendawan Diplodia maydis.
Kelobot yang terinfeksi pada umumnya berwarna coklat, infeksi pada kelobot setelah 2 minggu keluarnya rambut jagung, menyebabkan biji berubah menjadi coklat, kisut dan busuk. Miselium berwarna putih, piknidia berwarna hitam tersebar pada kelobot. Infeksi dimulai pada dasar tongkol berkembang ke bongkol kemudian merambat ke permukaan biji dan menutupi kelobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk spora dan piknidia yang berdinding tebal pada sisa tanaman di lapangan.
Gejala busuk tongkol Diplodia disebabkan oleh infeksi cendawan Diplodia maydis.
c. Busuk tongkol Gibberella
Gejala
Tongkol yang terinfeksi dini oleh cendawan ini dapat menjadi busuk dan kelobotnya saling menempel erat pada tongkol, buah berwarna biru hitam di permukaan kelobot dan bongkol.
Gejala busuk tongkol Gibberella disebabkan oleh infeksi cendawan Gibberella roseum.
Pengendalian :
- Menggunakan pemupukan berimbang.
- Tidak membiarkan tongkol terlalu lama mengering di lapangan, jika musim hujan bagian batang dibawah tongkol dipotong agar ujung tongkol tidak mengarah keatas.
Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan termasuk padi-padian, karena patogen ini mempunyai banyak tanaman inang.
Tongkol yang terinfeksi dini oleh cendawan ini dapat menjadi busuk dan kelobotnya saling menempel erat pada tongkol, buah berwarna biru hitam di permukaan kelobot dan bongkol.
Gejala busuk tongkol Gibberella disebabkan oleh infeksi cendawan Gibberella roseum.
Pengendalian :
- Menggunakan pemupukan berimbang.
- Tidak membiarkan tongkol terlalu lama mengering di lapangan, jika musim hujan bagian batang dibawah tongkol dipotong agar ujung tongkol tidak mengarah keatas.
Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan termasuk padi-padian, karena patogen ini mempunyai banyak tanaman inang.
Busuk Batang
Gejala
Penyakit busuk batang jagung dapat menyebabkan kerusakan pada varietas rentan hingga 65%. Tanaman jagung yang terserang penyakit ini tampak layu atau kering seluruh daunnya. Umumnya gejala tersebut terjadi pada stadia generatif, yaitu setelah fase pembungaan. Pangkal batang yang terinfeksi berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan, bagian dalam batang busuk, sehingga mudah rebah, dan bagian kulit luarnya tipis. Pada pangkal batang yang terinfeksi akan memperlihatkan warna merah jambu, merah kecoklatan atau coklat.
Penyakit busuk batang jagung dapat disebabkan oleh delapan spesies/cendawan seperti Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium apanidermatum, Cephalosporium maydis, dan Cephalosporium acremonium. Di Sulawesi Selatan penyebab penyakit busuk batang yang telah berhasil diisolasi adalah Diplodia sp., Fusarium sp. dan Macrophomina sp.
Penularan
Cendawan patogen penyebab penyakit busuk batang memproduksi konidia pada permukaan tanaman inangnya. Konidia dapat disebarkan oleh angin, air hujan ataupun serangga. Pada waktu tidak ada tanaman, cendawan dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman yang terinfeksi dalam fase hifa atau piknidia dan peritesia yang berisi spora. Pada kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkembangannya, spora akan keluar dari piknidia atau peritesia. Spora pada permukaan tanaman jagung akan tumbuh dan menginfeksi melalui akar ataupun pangkal batang. Infeksi awal dapat melalui luka atau membentuk sejenis apresoria yang mampu masuk ke jaringan tanaman. Spora/konidia yang terbawa angin dapat menginfeksi ke tongkol, dan biji yang terinfeksi bila ditanam dapat menyebabkan penyakit busuk batang.
Pengendalian
1. Menanam varietas tahan, hasil seperti BISI-1, BISI-4, BISI-5, Surya, Exp.9572, Exp. 9702, Exp. 9703, CPI-2, FPC 9923, Pioneer-8, Pioneer-10, Pioneer-12, Pioneer-13, Pioneer-14, Semar-9, Palakka, dan J1-C3.
2. Pergiliran tanaman.
3. Pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K rendah.
4. Drainase yang baik.
5. Pengendalian penyakit busuk batang (Fusarium) secara hayati dapat dilakukan dengan cendawan antagonis Trichoderma sp.
Penyakit busuk batang jagung dapat menyebabkan kerusakan pada varietas rentan hingga 65%. Tanaman jagung yang terserang penyakit ini tampak layu atau kering seluruh daunnya. Umumnya gejala tersebut terjadi pada stadia generatif, yaitu setelah fase pembungaan. Pangkal batang yang terinfeksi berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan, bagian dalam batang busuk, sehingga mudah rebah, dan bagian kulit luarnya tipis. Pada pangkal batang yang terinfeksi akan memperlihatkan warna merah jambu, merah kecoklatan atau coklat.
Penyakit busuk batang jagung dapat disebabkan oleh delapan spesies/cendawan seperti Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium apanidermatum, Cephalosporium maydis, dan Cephalosporium acremonium. Di Sulawesi Selatan penyebab penyakit busuk batang yang telah berhasil diisolasi adalah Diplodia sp., Fusarium sp. dan Macrophomina sp.
Penularan
Cendawan patogen penyebab penyakit busuk batang memproduksi konidia pada permukaan tanaman inangnya. Konidia dapat disebarkan oleh angin, air hujan ataupun serangga. Pada waktu tidak ada tanaman, cendawan dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman yang terinfeksi dalam fase hifa atau piknidia dan peritesia yang berisi spora. Pada kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkembangannya, spora akan keluar dari piknidia atau peritesia. Spora pada permukaan tanaman jagung akan tumbuh dan menginfeksi melalui akar ataupun pangkal batang. Infeksi awal dapat melalui luka atau membentuk sejenis apresoria yang mampu masuk ke jaringan tanaman. Spora/konidia yang terbawa angin dapat menginfeksi ke tongkol, dan biji yang terinfeksi bila ditanam dapat menyebabkan penyakit busuk batang.
Pengendalian
1. Menanam varietas tahan, hasil seperti BISI-1, BISI-4, BISI-5, Surya, Exp.9572, Exp. 9702, Exp. 9703, CPI-2, FPC 9923, Pioneer-8, Pioneer-10, Pioneer-12, Pioneer-13, Pioneer-14, Semar-9, Palakka, dan J1-C3.
2. Pergiliran tanaman.
3. Pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K rendah.
4. Drainase yang baik.
5. Pengendalian penyakit busuk batang (Fusarium) secara hayati dapat dilakukan dengan cendawan antagonis Trichoderma sp.
Karat Daun (Puccinia polysora)
Bercak-bercak
kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan
daun jagung di bagian atas dan bawah, uredinia menghasilkan uredospora
yang berbentuk bulat atau oval dan berperan penting sebagai sumber
inokulum dalam menginfeksi tanaman jagung yang lain dan sebarannya
melalui angin. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai
tinggi dan infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau musim
kemarau.
Penyebab
Penyakit karat disebabkan oleh Puccinia polysora
Pengendalian
- Menanam varietas tahan : Lamuru, Sukmaraga, Palakka, Bima-1 dan Semar- 10
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai keakarnya (Eradikasi tanaman) yang terinfeksi karat daun dan gulma
- Penggunaan fungisida dengan bahan aktif benomil
Penyebab
Penyakit karat disebabkan oleh Puccinia polysora
Pengendalian
- Menanam varietas tahan : Lamuru, Sukmaraga, Palakka, Bima-1 dan Semar- 10
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai keakarnya (Eradikasi tanaman) yang terinfeksi karat daun dan gulma
- Penggunaan fungisida dengan bahan aktif benomil
Bercak Daun (Bipolaris maydis Syn.)
Gejala
Penyakit bercak daun pada tanaman jagung dikenal dua tipe menurut ras patogennya yaitu ras O dan T. Ras O bercak berwarna coklat kemerahan dengan ukuran 0,6 x (1,2_1,9) cm, sedangkan Ras T bercak berukuran lebih besar yaitu (0,6_1,2) x (0,6_2,7) cm. Ras T berbentuk kumparan dengan bercak berwarna hijau kuning atau klorotik kemudian menjadi coklat kemerahan. Kedua ras ini, ras T lebih berbahaya (virulen) dibanding ras O dan pada bibit jagung yang terserang menjadi layu atau mati dalam waktu 3_4 minggu setelah tanam.
Tongkol yang terserang/terinfeksi dini, biji akan rusak dan busuk, bahkan tongkol dapat gugur. Bercak pada ras T terdapat pada seluruh bagian tanaman (daun, pelepah, batang, tangkai kelobot, biji, dan tongkol). Permukaan biji yang terinfeksi ditutupi miselium berwarna abu-abu sampai hitam sehingga dapat menurunkan hasil yang cukup besar. Cendawan ini dalam bentuk miselium dan spora dapat bertahan hidup dalam sisa tanaman di lapang atau pada biji di penyimpanan. Konidia yang terbawa angin atau percikan air hujan dapat menimbulkan infeksi pertama pada tanaman jagung.
Penyebab
Penyakit bercak daun penyebabnya adalah : Bipolaris maydis Syn. Pada B. maydis ada dua ras yaitu ras O dan ras T.
Pengendalian
- Menanam varietas tahan : Bima-1, Srikandi Kuning-1, Sukmaraga dan Palakka
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai akarnya (Eradikasi tanaman) yang terinfeksi bercak daun
- Penggunaan fungisida dengan bahan aktif mancozeb dan carbendazim
Penyakit bercak daun pada tanaman jagung dikenal dua tipe menurut ras patogennya yaitu ras O dan T. Ras O bercak berwarna coklat kemerahan dengan ukuran 0,6 x (1,2_1,9) cm, sedangkan Ras T bercak berukuran lebih besar yaitu (0,6_1,2) x (0,6_2,7) cm. Ras T berbentuk kumparan dengan bercak berwarna hijau kuning atau klorotik kemudian menjadi coklat kemerahan. Kedua ras ini, ras T lebih berbahaya (virulen) dibanding ras O dan pada bibit jagung yang terserang menjadi layu atau mati dalam waktu 3_4 minggu setelah tanam.
Tongkol yang terserang/terinfeksi dini, biji akan rusak dan busuk, bahkan tongkol dapat gugur. Bercak pada ras T terdapat pada seluruh bagian tanaman (daun, pelepah, batang, tangkai kelobot, biji, dan tongkol). Permukaan biji yang terinfeksi ditutupi miselium berwarna abu-abu sampai hitam sehingga dapat menurunkan hasil yang cukup besar. Cendawan ini dalam bentuk miselium dan spora dapat bertahan hidup dalam sisa tanaman di lapang atau pada biji di penyimpanan. Konidia yang terbawa angin atau percikan air hujan dapat menimbulkan infeksi pertama pada tanaman jagung.
Penyebab
Penyakit bercak daun penyebabnya adalah : Bipolaris maydis Syn. Pada B. maydis ada dua ras yaitu ras O dan ras T.
Pengendalian
- Menanam varietas tahan : Bima-1, Srikandi Kuning-1, Sukmaraga dan Palakka
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai akarnya (Eradikasi tanaman) yang terinfeksi bercak daun
- Penggunaan fungisida dengan bahan aktif mancozeb dan carbendazim
Virus Mosaik
Gejala
Gejala penyakit ini tanaman menjadi kerdil, daun berwarna mosaik atau hijau dengan diselingi garis-garis kuning, dan dilihat secara keseluruhan tanaman tampak berwarna agak kekuningan mirip dengan gejala bulai namun permukaan daun bagian bawah dan atas dipegang tidak terasa adanya serbuk spora. Penularan virus dapat terjadi secara mekanis atau melalui serangga Myzus percicae dan Rhopalopsiphum maydis secara non persisten. Tanaman yang terinfeksi virus ini umumnya terjadi penurunan hasil.
Pengendalian
Mencabut tanaman yang terinfeksi seawal mungkin agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman sekitarnya ataupun pertanaman yang akan datang.
Mengadakan pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama.
Penggunaan peptisida apabila di lapangan populasi vektor cukup tinggi.
Tidak penggunakan benih yang berasal dari tanaman yang terinfeksi virus.
Gejala penyakit ini tanaman menjadi kerdil, daun berwarna mosaik atau hijau dengan diselingi garis-garis kuning, dan dilihat secara keseluruhan tanaman tampak berwarna agak kekuningan mirip dengan gejala bulai namun permukaan daun bagian bawah dan atas dipegang tidak terasa adanya serbuk spora. Penularan virus dapat terjadi secara mekanis atau melalui serangga Myzus percicae dan Rhopalopsiphum maydis secara non persisten. Tanaman yang terinfeksi virus ini umumnya terjadi penurunan hasil.
Pengendalian
Mencabut tanaman yang terinfeksi seawal mungkin agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman sekitarnya ataupun pertanaman yang akan datang.
Mengadakan pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama.
Penggunaan peptisida apabila di lapangan populasi vektor cukup tinggi.
Tidak penggunakan benih yang berasal dari tanaman yang terinfeksi virus.
Teknis Budidaya Jagung
Kategori
Artikel
I. PENDAHULUAN
Di Indonesia jagung merupakan komoditi tanaman pangan penting, namun tingkat produksi belum optimal. CV Reski surya Prima berupaya meningkatkan produksi tanaman jagung secara kuantitas, kualitas dan ramah lingkungan /berkelanjutan ( Aspek K-3).
II. SYARAT PERTUMBUHAN
Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase
pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya
ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar
matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan
memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C -
300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah
yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah
antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah
kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %,
sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara
1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
A. Syarat benih
Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih
hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30
kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis
2-4 cc/lt air semalam).
B. Pengolahan Lahan
Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup
banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul
dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam
15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase
sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm.
Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.Di daerah
dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara
menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam.
Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan
pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung.
C. Pemupukan
Waktu | Dosis Pupuk Makro (per ha) | Dosis Pupuk | ||
Urea (kg) | TSP (kg) | KCl (kg) | ||
Perendaman benih |
-
|
-
|
-
| 2 - 4 cc/ lt air |
Pupuk dasar |
120
|
80
|
25
| 20 - 40 tutup/tangki ( siram merata ) |
2 minggu |
-
|
-
|
-
| 4 - 8 tutup/tangki ( semprot/siram) |
Susulan I (3 minggu) |
115
|
-
|
55
| - |
4 minggu |
-
|
-
|
-
| 4 - 8 tutup/tangki ( semprot/siram ) |
Susulan II (6minggu) |
115
|
-
|
-
| 4 - 8 tutup/tangki ( semprot/siram ) |
Catatan : akan lebih baik pupuk dasar menggunakan SUPER NASA dosis ± 1 botol/1000 m2 dengan cara :
- alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 lt air (jadi larutan induk). Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
- alternatif 2 : 1 gembor (10-15 lt) beri 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 m bedengan.
D. Teknik Penanaman
1. Penentuan Pola Tanaman
Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :
a. Tumpang sari ( intercropping ),
melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.
b. Tumpang gilir ( Multiple Cropping ),
dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.
c. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ):
pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.
d. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) :
penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.
2. Lubang Tanam dan Cara Tanam
Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang).
E. Pengelolaan Tanaman
1. Penjarangan dan Penyulaman
Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.
2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.
3. Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.
4. Pengairan dan Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.
F. Hama dan Penyakit
1. Hama
a. Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)
Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. Pengendalian: (1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman. (2) tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan. (3) Sanitasi kebun. (4) semprot dengan PESTONA.
b. Ulat Pemotong
Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) Tanam serentak atau pergiliran tanaman; (2) cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah); (3) Semprot PESTONA, VITURA atau VIREXI.
2. Penyakit
a. Penyakit bulai (Downy mildew)
Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta keadaan udara lembab. Gejala: (1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian: (1) penanaman menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; (3) cabut tanaman terserang dan musnahkan; (4) Preventif diawal tanam dengan GLIO
b. Penyakit bercak daun (Leaf bligh)
Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. Pengendalian: (1) pergiliran tanaman. (2) mengatur kondisi lahan tidak lembab; (3) Prenventif diawal dengan GLIO
c. Penyakit karat (Rust)
Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw. Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) menanam varietas tahan terhadap penyakit; (3) sanitasi kebun; (4) semprot dengan GLIO.
d. Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)
Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. Gejala: masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) memotong bagian tanaman dan dibakar; (3) benih yang akan ditanam dicampur GLIO dan POC NASA .
e. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji
Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. Pengendalian: (1) menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih; (2) GLIO di awal tanam.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
G. Panen dan Pasca Panen
1. Ciri dan Umur Panen
Umur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.
2. Cara Panen
Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung.
3. Pengupasan
Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.
4. Pengeringan
Pengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering.
5. Pemipilan
Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.
6. Penyortiran dan Penggolongan
Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.
1. Penentuan Pola Tanaman
Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :
a. Tumpang sari ( intercropping ),
melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.
b. Tumpang gilir ( Multiple Cropping ),
dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.
c. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ):
pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.
d. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) :
penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.
2. Lubang Tanam dan Cara Tanam
Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang).
E. Pengelolaan Tanaman
1. Penjarangan dan Penyulaman
Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.
2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.
3. Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.
4. Pengairan dan Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.
F. Hama dan Penyakit
1. Hama
a. Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)
Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. Pengendalian: (1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman. (2) tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan. (3) Sanitasi kebun. (4) semprot dengan PESTONA.
b. Ulat Pemotong
Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) Tanam serentak atau pergiliran tanaman; (2) cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah); (3) Semprot PESTONA, VITURA atau VIREXI.
2. Penyakit
a. Penyakit bulai (Downy mildew)
Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta keadaan udara lembab. Gejala: (1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian: (1) penanaman menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; (3) cabut tanaman terserang dan musnahkan; (4) Preventif diawal tanam dengan GLIO
b. Penyakit bercak daun (Leaf bligh)
Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. Pengendalian: (1) pergiliran tanaman. (2) mengatur kondisi lahan tidak lembab; (3) Prenventif diawal dengan GLIO
c. Penyakit karat (Rust)
Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw. Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) menanam varietas tahan terhadap penyakit; (3) sanitasi kebun; (4) semprot dengan GLIO.
d. Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)
Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. Gejala: masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) memotong bagian tanaman dan dibakar; (3) benih yang akan ditanam dicampur GLIO dan POC NASA .
e. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji
Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. Pengendalian: (1) menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih; (2) GLIO di awal tanam.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
G. Panen dan Pasca Panen
1. Ciri dan Umur Panen
Umur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.
2. Cara Panen
Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung.
3. Pengupasan
Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.
4. Pengeringan
Pengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering.
5. Pemipilan
Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.
6. Penyortiran dan Penggolongan
Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.
Sistem TABELA pada Budidaya Padi
Kategori
Artikel
Tanam padi sistem TABELA ( Tabur Benih Langsung ) memang memberikan beberapa keunggulan atau kelebihan dari cara tanam konvensional karena lebih efisien, namun disisi lain ternyata kurang cocok bila
dilakukan saat musim penghujan. Bahkan disinyalir turut menumbuhkan
biji gulma untuk tumbuh lebih awal sehingga mendorong gulma tumbuh
cepat. Maka pemilihan herbisida yang selektif dan efektif mutlak dibutuhkan untuk mengendalikan pertumbuhan gulma tersebut.
Tanaman padi (Oriza sativa) adalah salah satu jenis serealia yang umumnya dibudidayakan melalui sistem persemaian terlebih dahulu. Baru setelah bibit tumbuh sampai berumur + 3 minggu dilakukan pemindahan tanaman bibit ke lapangan yang telah dipersiapkan sebelumnya yang dikenal dengan istilah transplanting. Cara ini merupakan suatu cara yang umum digunakan oleh petani padi di seluruh Indonesia.
Namun, ada beberapa kelemahan yang dimiliki dari sistem transplanting tersebut, diantaranya : (a) pada saat bibit dicabut dari tempat persemaian maka bibit akan mengalami kerusakan pada sistem perakarannya.
Monochoria vaginalis, gulma berdaun lebar yang sering mengganggu pertanaman padi
Keadaan ini akan mempengaruhi proses adaptasi tanaman, dimana bibit padi tersebut akan berhenti mengabsorbsi air, sedangkan di lain pihak proses transpirasinya tetap berlangsung. Bila keadaan ini berlangsung dalam interval waktu yang agak panjang maka bibit akan mengalami kekurangan air, terjadi penurunan tekanan turgor dari guard cell (sel penjaga), stomata tertutup, difusi CO2 tertekan dan pada akhirnya terhentinya proses fotosintesis. (b) Pada saat bibit tanaman padi dicabut dari persemaian akan terjadi pelukaan pada sistem perakarannya, hal ini mempengaruhi daya tahan tanaman dimana luka yang ada akan menyebabkan bibit penyakit dapat masuk ke dalam tanaman. (c) Pada saat bibit tanaman padi dicabut dari persemaian dan dipindahkan ke sawah, akan terjadi proses stagnasi dimana pertumbuhan bibit tanaman akan terhenti sementara sampai dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya, (d) sistem budidaya melalui persemaian lebih cocok untuk musim penghujan karena proses transpirasi (penguapan) dapat ditekan lajunya sehingga bibit padi dapat terhindar dari proses kelayuan dan terakhir (e) sistem budidaya melalui persemaian akan membutuhkan tenaga kerja lebih banyak dimana untuk luasan satu hektar akan membutuhkan kurang lebih 10 orang tenaga kerja transplanting dan membutuhkan waktu + 8 jam dengan besar biaya + Rp. 250.000,- (standart di Kabupaten Sindrap, Sulawesi Selatan).
Untuk mengatasi keadaan ini perlu dilakukan alternatif teknik budidaya lain misalnya tekhnologi budidaya tanaman padi dengan menggunakan sistem tabela atau tabur benih langsung. Pada sistem tabela ini, sebelum benih ditabur ke lapangan terlebih dahulu di kecambahkan di dalam karung yang basah selama 2 hari sampai calon akarnya kelihatan, kemudian barulah dimasukkan langsung ke dalam lubang-lubang yang dibuat terlebih dahulu menggunakan kayu sederhana (tugal) yang berfungsi sebagai alat pembuat lubang dan sekaligus untuk mengatur jarak tanam. Sebelumnya lahan perlu diairi sampak agak basah tetapi tidak sampai menggenang atau becek sehingga mempermudah pembuatan lubang-lubang tanam. Benih hasil peraman yang telah kelihatan calon akarnya dimasukkan ke dalam lubang dengan menggunakan telunjuk jari tengah dan ibu jari + 20 – 25 benih ke dalam satu lubang. Perlakuan ini dengan estimasi bahwa satu rumpun padi yang optimal terdiri dari 20 – 25 anakan. Jarak tanam yang baik adalah + 25 x 25 cm dengan kebutuhan benih + 60 kg/ha.
Benih padi yang sudah muncul titik tumbuhnya dimasukkan ke dalam lubang dengan menggunakan jari telunjuk
Di Sulawesi Selatan, sistem tabela ini sudah mulai memasyarakat dan banyak digunakan oleh petani padi sawah terutama di Kabupaten Sindrap, Pinrang dan Bone. Adapun beberapa keuntungan budidaya padi dengan sistem tabela diantaranya : (a) sistem tabela memastikan jarak tanam lebih tepat dan teratur sehingga produksi yang diperoleh petani lebih banyak 500 – 1000 kg gabah kering per hektar bila dibandingkan dengan sistem persemaian. Konsekuensi yang diperoleh dari jarak tanam yang teratur akan mengurangi kompetisi untuk mendapatkan faktor-faktor produksi antar tanaman. Yang terpenting adalah bahwa jarak tanam yang tepat dan teratur akan menyebabkan Leaf Area Indeks (LAI) yang optimum karena semua lapisan daun sempurna sehingga proses fotosintesis tanaman dapat berlangsung secara optimal. Keadaan inilah yang dapat menunjang kenaikan produksi lebih tinggi pada sistem budidaya padi dengan menabur benih langsung tanpa melewati proses persemaian. (b) sistem tabela menyebabkan tanaman terhindar dari proses transpirasi yang berlebihan yang dapat menyebabkan kelayuan saat kekurangan air , (c) tanaman terhindar dari stagnasi (d) tanaman terhindar dari proses penggabungan akar yang biasa terjadi saat transplanting sehingga banyak akar yang rusak dan putus dan (e) Dengan sistem tabela kebutuhan tenaga kerja penanam untuk luasan 1 hektar adalah lima orang tenaga kerja dengan waktu + 4 jam sehingga besar biaya akan jauh lebih murah ( + Rp. 125.000) jika dibandingkan dengan budidaya sistem persemaian. Dengan sistem tabela dapat menghasilkan 6 – 6,5 ton gabah, sedangkan melalui sistem persemaian konvensional menghasilkan 5 – 5,5 ton gabah.
Namun disamping memiliki kelebihan-kelebihan tersebut, sistem budidaya padi secara tabela ini juga memiliki beberapa kelemahan/kekurangan diantaranya (a) Sistem tabela hanya dapat digunakan pada musim kemarau. Bila digunakan pada saat musim penghujan benih yang dimasukkan ke dalam lubang akan keluar dan tersebar kemana-mana menyebabkan jarak tanam menjadi tidak teratur, (b) Dengan sistem tabela, karena air dimasukkan lebih awal pada saat akan membuat lubang, dapat menyebabkan biji-biji gulma berkecambah dan tumbuh lebih awal.
Dari beberapa jenis gulma yang tumbuh ternyata ada dua jenis gulma yang sering menyulitkan para petani padi, yaitu :
1. Echinocloa crussgalli
Gulma ini seringkali dijumpai pada tanaman padi. Biasanya disetiap daerah memiliki nama yang berlainan. Orang Sunda menyebutnya sebagai rumput jajagoan, sedangkan istilah Orang Sulawesi seringkali disebut sari beteng.
Jajagoan, salah satu gulma
yang sering mengganggu pertanaman padi
Jenis gulma ini adalah gulma berdaun sempit dan sulit dibedakan dari tanaman utama yaitu padi karena memiliki penampakkan yang hampir sama. Selain memiliki ciri yang sama, jajagoan ini juga biasanya tumbuh menjadi satu dengan anakan padi dalam satu rumpun. Perbedaan mencolok dari gulma ini dapat dilihat pada saat tanaman jajagoan mengalami pembungaan. Pada saat pembungaan inilah biasanya kompetisi dalam memperebutkan unsur hara yang ada dalam tanah berlangsung sehingga dapat mengakibatkan penurunan produksi padi berkisar antara 15 – 20 %. Karena sifatnya yang mirip dan menyatu dengan rumpun padi itulah pengendalian gulma harus diupayakan sedini mungkin dan memilih herbisida yang selektif, efektif dan bersifat pra tumbuh.
2. Monochoria vaginalis
Berbeda dengan jenis jajagoan, gulma ini merupakan jenis tanaman yang berdaun lebar. Orang seringkali menyebutnya dengan eceng gondok. Jenis gulma ini biasanya berkembang biak sangat cepat terutama bila hujan deras. Keadaan ini menyebabkan petani semakin mengalami kesulitan.
Pengendalian
Keberadaan gulma yang sangat mengganggu produktivitas tersebut kini selain dapat dikendalikan secara mekanis, juga dapat dilakukan secara kimia. Penggunaan herbisida merupakan langkah pengendalian gulma secara kimia namun relatif aman baik bagi pengguna maupun bagi tanaman utama itu sendiri. Dengan banyaknya jenis herbisida yang beredar di pasaran tentulah hal ini cukup membingungkan karena masing-masing merk menawarkan berbagai keunggulannya. Namun demikian, seperti yang dijelaskan sebelumnya pemilihan herbisida ini hendaknya sangat hati-hati dan selektif. Efektivitas suatu herbisida tergantung pada jenis gulma dan bahan aktif yang dikandung herbisida tersebut. Perlu diketahui bahwa tidak semua jenis herbisida mampu memberantas semua jenis gulma karena pada bahan aktif tertentu hanya efektif/manjur pada karakteristik gulma tertentu saja. Tidak terlepas dari bagaimana sifat/karakteristik suatu bahan aktif dalam efektivitasnya membasmi gulma, maka di beberapa tempat di Sulawesi Selatan seperti di Kab. Sindrap, Pinrang dan Bone khususnya pada budidaya padi yang menggunakan sistem tabela, telah mengadakan beberapa percobaan baik yang dilakukan sendiri oleh petani maupun bersama-sama. Hasilnya memuaskan dimana dari beberapa herbisida yang dicoba, ternyata hanya ada dua jenis yang paling unggul dan terbukti efektif dalam membasmi gulma jenis jajagoan maupun eceng gondok. Herbisida yang dimaksud adalah Billy 20WP dan Queen 25WP yang didistribusikan oleh PT. Tanindo Subur Prima-Surabaya dengan merk dagang Cap Kapal Terbang. Keunggulan dari dua jenis herbisida ini ternyata dari sifatnya selektiif pada padi dimana bahan aktif yang dimiliki baik oleh Billy 20WP maupun Queen 25WP tersebut efektif dalam membasmi gulma namun tidak mematikan tanaman padi.
Herbisida Billy 20WP merupakan herbisida sistemik yang berbahan aktif Etil pirazosulfuron 20 %. Herbisida ini dapat digunakan pada saat pra tumbuh sampai awal purna tumbuh, disamping selektif juga mampu mengendalikan gulma berdaun sempit maupun berdaun lebar. Billy 20WP ini berbentuk tepung yang berwarna abu-abu. Sifat selektivitas yang dimilikinya ini bila ditinjau secara biokimia erat kaitannya dengan keberadaan bahan aktif etil pirazosulfuron dimana senyawa yang dihasilkannya akan memutus cabang asam amino pada tanaman gulma yang lama-kelamaan akan menyebabkan kematian, namun tidak berpengaruh pada tanaman padi. Hal ini disebabkan bila kontak dengan tanaman padi maka senyawa tersebut akan membentuk senyawa hidroksil yang tidak beracun sehingga tetap aman bagi padi. Berdasarkan pengalaman para petani yang ada, maka agar didapatkan hasil yang optimal penggunaan dosis untuk memberantas gulma jajagoan adalah sekitar 5 gram/2 tangki air (28 liter) per hektar. Sedangkan untuk memberantas gulma eceng gondok dapat digunakan dosis 5 gram/1 tangki air (14 liter) per hektar.
Herbisida Queen 25WP tidak berbeda jauh dengan “kerabat”-nya yaitu Billy 20WP. Baik dilihat dari segi manfaat maupun keunggulan yang dimiliki baik Billy 20WP maupun Queen 25WP hampir sama. Hanya saja herbisida Queen 25WP ini mengandung bahan aktif Kuinklorak sebesar 25 %. Queen 25WP ini merupakan herbisida sistemik yang dapat digunakan pada pra tumbuh dan awal purna tumbuh berbentuk tepung dan berwarna krem yang dapat disuspensikan. Herbisida Queen ini lebih cocok digunakan pada gulma berdaun sempit seperti jajagoan. Dosis yang dapat digunakan untuk memberantas gulma ini adalah + 50 gram/2 tangki air untuk luasan satu hektar tanaman padi.
Dari hasil percobaan dan pengalaman petani setempat, ternyata bila kita menggunakan herbisida berbahan aktif metil metsulfuron maupun 2,4-D pada budidaya padi dengan sistem tabela ini akan menyebabkan keracunan pada tanaman padi yang dicirikan dengan daun berwarna kemerahan dan akhirnya berwarna coklat kehitaman seperti terbakar. Untuk itu maka penggunaan herbisida berbahan aktif metil metsulfuron maupun 2,4 –D ini baru dapat digunakan pada saat tanaman padi berumur + 18 hari.
Berdasarkan uraian di atas maka pengambilan keputusan untuk pengendalian gulma secara kimia harus dibuat sebijak mungkin dan hati-hati dengan mempertimbangkan efektivitas dan biayanya. Sehingga pemilihan herbisida yang benar-benar tepat yaitu efektif dan selektif juga aman bagi tanaman padi mutlak dipertimbangkan. Dengan keunggulan yang dimiliki , maka baik Billy 20WP maupun Queen 25 WP merupakan alternatif herbisida yang tepat dan efektif dalam mengendalikan sekaligus mencegah adanya tanaman gulma. Penggunaan herbisida pada sistem tabela dapat memberantas gulma sedini mungkin tanpa merusak tanaman padi itu sendiri. Sehingga hal itu tidak dapat memberikan kesempatan kepada gulma untuk berkompetisi dengan tanaman padi dalam mendapatkan unsur hara, air, cahaya, maupun CO2 untuk perkembangan dan pertumbuhannya
Tanaman padi (Oriza sativa) adalah salah satu jenis serealia yang umumnya dibudidayakan melalui sistem persemaian terlebih dahulu. Baru setelah bibit tumbuh sampai berumur + 3 minggu dilakukan pemindahan tanaman bibit ke lapangan yang telah dipersiapkan sebelumnya yang dikenal dengan istilah transplanting. Cara ini merupakan suatu cara yang umum digunakan oleh petani padi di seluruh Indonesia.
Namun, ada beberapa kelemahan yang dimiliki dari sistem transplanting tersebut, diantaranya : (a) pada saat bibit dicabut dari tempat persemaian maka bibit akan mengalami kerusakan pada sistem perakarannya.
Monochoria vaginalis, gulma berdaun lebar yang sering mengganggu pertanaman padi
Keadaan ini akan mempengaruhi proses adaptasi tanaman, dimana bibit padi tersebut akan berhenti mengabsorbsi air, sedangkan di lain pihak proses transpirasinya tetap berlangsung. Bila keadaan ini berlangsung dalam interval waktu yang agak panjang maka bibit akan mengalami kekurangan air, terjadi penurunan tekanan turgor dari guard cell (sel penjaga), stomata tertutup, difusi CO2 tertekan dan pada akhirnya terhentinya proses fotosintesis. (b) Pada saat bibit tanaman padi dicabut dari persemaian akan terjadi pelukaan pada sistem perakarannya, hal ini mempengaruhi daya tahan tanaman dimana luka yang ada akan menyebabkan bibit penyakit dapat masuk ke dalam tanaman. (c) Pada saat bibit tanaman padi dicabut dari persemaian dan dipindahkan ke sawah, akan terjadi proses stagnasi dimana pertumbuhan bibit tanaman akan terhenti sementara sampai dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya, (d) sistem budidaya melalui persemaian lebih cocok untuk musim penghujan karena proses transpirasi (penguapan) dapat ditekan lajunya sehingga bibit padi dapat terhindar dari proses kelayuan dan terakhir (e) sistem budidaya melalui persemaian akan membutuhkan tenaga kerja lebih banyak dimana untuk luasan satu hektar akan membutuhkan kurang lebih 10 orang tenaga kerja transplanting dan membutuhkan waktu + 8 jam dengan besar biaya + Rp. 250.000,- (standart di Kabupaten Sindrap, Sulawesi Selatan).
Untuk mengatasi keadaan ini perlu dilakukan alternatif teknik budidaya lain misalnya tekhnologi budidaya tanaman padi dengan menggunakan sistem tabela atau tabur benih langsung. Pada sistem tabela ini, sebelum benih ditabur ke lapangan terlebih dahulu di kecambahkan di dalam karung yang basah selama 2 hari sampai calon akarnya kelihatan, kemudian barulah dimasukkan langsung ke dalam lubang-lubang yang dibuat terlebih dahulu menggunakan kayu sederhana (tugal) yang berfungsi sebagai alat pembuat lubang dan sekaligus untuk mengatur jarak tanam. Sebelumnya lahan perlu diairi sampak agak basah tetapi tidak sampai menggenang atau becek sehingga mempermudah pembuatan lubang-lubang tanam. Benih hasil peraman yang telah kelihatan calon akarnya dimasukkan ke dalam lubang dengan menggunakan telunjuk jari tengah dan ibu jari + 20 – 25 benih ke dalam satu lubang. Perlakuan ini dengan estimasi bahwa satu rumpun padi yang optimal terdiri dari 20 – 25 anakan. Jarak tanam yang baik adalah + 25 x 25 cm dengan kebutuhan benih + 60 kg/ha.
Benih padi yang sudah muncul titik tumbuhnya dimasukkan ke dalam lubang dengan menggunakan jari telunjuk
Di Sulawesi Selatan, sistem tabela ini sudah mulai memasyarakat dan banyak digunakan oleh petani padi sawah terutama di Kabupaten Sindrap, Pinrang dan Bone. Adapun beberapa keuntungan budidaya padi dengan sistem tabela diantaranya : (a) sistem tabela memastikan jarak tanam lebih tepat dan teratur sehingga produksi yang diperoleh petani lebih banyak 500 – 1000 kg gabah kering per hektar bila dibandingkan dengan sistem persemaian. Konsekuensi yang diperoleh dari jarak tanam yang teratur akan mengurangi kompetisi untuk mendapatkan faktor-faktor produksi antar tanaman. Yang terpenting adalah bahwa jarak tanam yang tepat dan teratur akan menyebabkan Leaf Area Indeks (LAI) yang optimum karena semua lapisan daun sempurna sehingga proses fotosintesis tanaman dapat berlangsung secara optimal. Keadaan inilah yang dapat menunjang kenaikan produksi lebih tinggi pada sistem budidaya padi dengan menabur benih langsung tanpa melewati proses persemaian. (b) sistem tabela menyebabkan tanaman terhindar dari proses transpirasi yang berlebihan yang dapat menyebabkan kelayuan saat kekurangan air , (c) tanaman terhindar dari stagnasi (d) tanaman terhindar dari proses penggabungan akar yang biasa terjadi saat transplanting sehingga banyak akar yang rusak dan putus dan (e) Dengan sistem tabela kebutuhan tenaga kerja penanam untuk luasan 1 hektar adalah lima orang tenaga kerja dengan waktu + 4 jam sehingga besar biaya akan jauh lebih murah ( + Rp. 125.000) jika dibandingkan dengan budidaya sistem persemaian. Dengan sistem tabela dapat menghasilkan 6 – 6,5 ton gabah, sedangkan melalui sistem persemaian konvensional menghasilkan 5 – 5,5 ton gabah.
Namun disamping memiliki kelebihan-kelebihan tersebut, sistem budidaya padi secara tabela ini juga memiliki beberapa kelemahan/kekurangan diantaranya (a) Sistem tabela hanya dapat digunakan pada musim kemarau. Bila digunakan pada saat musim penghujan benih yang dimasukkan ke dalam lubang akan keluar dan tersebar kemana-mana menyebabkan jarak tanam menjadi tidak teratur, (b) Dengan sistem tabela, karena air dimasukkan lebih awal pada saat akan membuat lubang, dapat menyebabkan biji-biji gulma berkecambah dan tumbuh lebih awal.
Dari beberapa jenis gulma yang tumbuh ternyata ada dua jenis gulma yang sering menyulitkan para petani padi, yaitu :
1. Echinocloa crussgalli
Gulma ini seringkali dijumpai pada tanaman padi. Biasanya disetiap daerah memiliki nama yang berlainan. Orang Sunda menyebutnya sebagai rumput jajagoan, sedangkan istilah Orang Sulawesi seringkali disebut sari beteng.
Jajagoan, salah satu gulma
yang sering mengganggu pertanaman padi
Jenis gulma ini adalah gulma berdaun sempit dan sulit dibedakan dari tanaman utama yaitu padi karena memiliki penampakkan yang hampir sama. Selain memiliki ciri yang sama, jajagoan ini juga biasanya tumbuh menjadi satu dengan anakan padi dalam satu rumpun. Perbedaan mencolok dari gulma ini dapat dilihat pada saat tanaman jajagoan mengalami pembungaan. Pada saat pembungaan inilah biasanya kompetisi dalam memperebutkan unsur hara yang ada dalam tanah berlangsung sehingga dapat mengakibatkan penurunan produksi padi berkisar antara 15 – 20 %. Karena sifatnya yang mirip dan menyatu dengan rumpun padi itulah pengendalian gulma harus diupayakan sedini mungkin dan memilih herbisida yang selektif, efektif dan bersifat pra tumbuh.
2. Monochoria vaginalis
Berbeda dengan jenis jajagoan, gulma ini merupakan jenis tanaman yang berdaun lebar. Orang seringkali menyebutnya dengan eceng gondok. Jenis gulma ini biasanya berkembang biak sangat cepat terutama bila hujan deras. Keadaan ini menyebabkan petani semakin mengalami kesulitan.
Pengendalian
Keberadaan gulma yang sangat mengganggu produktivitas tersebut kini selain dapat dikendalikan secara mekanis, juga dapat dilakukan secara kimia. Penggunaan herbisida merupakan langkah pengendalian gulma secara kimia namun relatif aman baik bagi pengguna maupun bagi tanaman utama itu sendiri. Dengan banyaknya jenis herbisida yang beredar di pasaran tentulah hal ini cukup membingungkan karena masing-masing merk menawarkan berbagai keunggulannya. Namun demikian, seperti yang dijelaskan sebelumnya pemilihan herbisida ini hendaknya sangat hati-hati dan selektif. Efektivitas suatu herbisida tergantung pada jenis gulma dan bahan aktif yang dikandung herbisida tersebut. Perlu diketahui bahwa tidak semua jenis herbisida mampu memberantas semua jenis gulma karena pada bahan aktif tertentu hanya efektif/manjur pada karakteristik gulma tertentu saja. Tidak terlepas dari bagaimana sifat/karakteristik suatu bahan aktif dalam efektivitasnya membasmi gulma, maka di beberapa tempat di Sulawesi Selatan seperti di Kab. Sindrap, Pinrang dan Bone khususnya pada budidaya padi yang menggunakan sistem tabela, telah mengadakan beberapa percobaan baik yang dilakukan sendiri oleh petani maupun bersama-sama. Hasilnya memuaskan dimana dari beberapa herbisida yang dicoba, ternyata hanya ada dua jenis yang paling unggul dan terbukti efektif dalam membasmi gulma jenis jajagoan maupun eceng gondok. Herbisida yang dimaksud adalah Billy 20WP dan Queen 25WP yang didistribusikan oleh PT. Tanindo Subur Prima-Surabaya dengan merk dagang Cap Kapal Terbang. Keunggulan dari dua jenis herbisida ini ternyata dari sifatnya selektiif pada padi dimana bahan aktif yang dimiliki baik oleh Billy 20WP maupun Queen 25WP tersebut efektif dalam membasmi gulma namun tidak mematikan tanaman padi.
Herbisida Billy 20WP merupakan herbisida sistemik yang berbahan aktif Etil pirazosulfuron 20 %. Herbisida ini dapat digunakan pada saat pra tumbuh sampai awal purna tumbuh, disamping selektif juga mampu mengendalikan gulma berdaun sempit maupun berdaun lebar. Billy 20WP ini berbentuk tepung yang berwarna abu-abu. Sifat selektivitas yang dimilikinya ini bila ditinjau secara biokimia erat kaitannya dengan keberadaan bahan aktif etil pirazosulfuron dimana senyawa yang dihasilkannya akan memutus cabang asam amino pada tanaman gulma yang lama-kelamaan akan menyebabkan kematian, namun tidak berpengaruh pada tanaman padi. Hal ini disebabkan bila kontak dengan tanaman padi maka senyawa tersebut akan membentuk senyawa hidroksil yang tidak beracun sehingga tetap aman bagi padi. Berdasarkan pengalaman para petani yang ada, maka agar didapatkan hasil yang optimal penggunaan dosis untuk memberantas gulma jajagoan adalah sekitar 5 gram/2 tangki air (28 liter) per hektar. Sedangkan untuk memberantas gulma eceng gondok dapat digunakan dosis 5 gram/1 tangki air (14 liter) per hektar.
Herbisida Queen 25WP tidak berbeda jauh dengan “kerabat”-nya yaitu Billy 20WP. Baik dilihat dari segi manfaat maupun keunggulan yang dimiliki baik Billy 20WP maupun Queen 25WP hampir sama. Hanya saja herbisida Queen 25WP ini mengandung bahan aktif Kuinklorak sebesar 25 %. Queen 25WP ini merupakan herbisida sistemik yang dapat digunakan pada pra tumbuh dan awal purna tumbuh berbentuk tepung dan berwarna krem yang dapat disuspensikan. Herbisida Queen ini lebih cocok digunakan pada gulma berdaun sempit seperti jajagoan. Dosis yang dapat digunakan untuk memberantas gulma ini adalah + 50 gram/2 tangki air untuk luasan satu hektar tanaman padi.
Dari hasil percobaan dan pengalaman petani setempat, ternyata bila kita menggunakan herbisida berbahan aktif metil metsulfuron maupun 2,4-D pada budidaya padi dengan sistem tabela ini akan menyebabkan keracunan pada tanaman padi yang dicirikan dengan daun berwarna kemerahan dan akhirnya berwarna coklat kehitaman seperti terbakar. Untuk itu maka penggunaan herbisida berbahan aktif metil metsulfuron maupun 2,4 –D ini baru dapat digunakan pada saat tanaman padi berumur + 18 hari.
Berdasarkan uraian di atas maka pengambilan keputusan untuk pengendalian gulma secara kimia harus dibuat sebijak mungkin dan hati-hati dengan mempertimbangkan efektivitas dan biayanya. Sehingga pemilihan herbisida yang benar-benar tepat yaitu efektif dan selektif juga aman bagi tanaman padi mutlak dipertimbangkan. Dengan keunggulan yang dimiliki , maka baik Billy 20WP maupun Queen 25 WP merupakan alternatif herbisida yang tepat dan efektif dalam mengendalikan sekaligus mencegah adanya tanaman gulma. Penggunaan herbisida pada sistem tabela dapat memberantas gulma sedini mungkin tanpa merusak tanaman padi itu sendiri. Sehingga hal itu tidak dapat memberikan kesempatan kepada gulma untuk berkompetisi dengan tanaman padi dalam mendapatkan unsur hara, air, cahaya, maupun CO2 untuk perkembangan dan pertumbuhannya







